• L3
  • Email :
  • Search :

21 Juli 2020

Mengapa BPPSPAM Dibubarkan?

Mengapa BPPSPAM Dibubarkan?

Ada 18 badan, tim, komisi yang dibubarkan oleh Presiden Jokowi. Satu di antaranya adalah BPPSPAM. BPPSPAM dibentuk oleh Peraturan Presiden No. 90 tahun 2016. Usianya mencapai empat tahun. Namun sejarahnya sudah lebih awal, sejak zaman Presiden SBY. Tahun 2005 dibentuk BPPSPAM, sebagai embrio yang menilai kinerja PDAM. Pada awal medio dekade itu, antara tahun 2001 – 2005, kondisi PDAM masih menyedihkan; 90% dalam kondisi tidak sehat, seperti ditulis di dalam buku “PDAM Bangkrut? Awas Perang Air.” Spirit buku ini adalah memberikan informasi dengan fakta yang bisa dikumpulkan pada waktu itu dari berbagai sumber, agar PDAM berubah menjadi perusahaan daerah yang kuat dan bermanfaat luas bagi masyarakat setempat.
Gambar 1. Sejarah BPPSPAM (Sumber: situs bppspam.pupr,go.id)

BPPSPAM itu pun menjadi respon atas UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sejumlah LSM, misalnya Walhi pada waktu itu memberikan kritik atas kinerja DPR. Begitu juga akademisi dan masyarakat. Namun waktu itu Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tetaplah menguatkan eksistensi UU Nomor 7 tahun 2004, meskipun ada dua hakim yang dissenting opinion. Selanjutnya UU SDA itu digugat oleh Muhammadiyah cs. Akhirnya pada tahun 2015 Mahkamah Konstitusi membatalkan UU SDA dan kembali ke UU No. 11/1974 tentang Pengairan. Esensi pembatalan berkenaan dengan privatisasi (penswastaan) air minum di sektor SPAM dan penguasaan negara atas air. Isu SPAM ini pula yang tarik-ulur saat ini. Sektor ini berpengaruh kepada pengusaha air jeriken dan truk tangki, AMIK (Air Minum Kemasan atau AMDK) dan AMIKU (Air Minum Kemasan Ulang atau air isi ulang). Asasnya, sumber air berupa mata air, air tanah, sungai, danau, waduk, rawa, laut tidak boleh dikuasai oleh perseorangan atau swasta.

Menurut fungsinya, BPPSPAM itu melaksanakan aktivitas dalam hal:
1. Menilai kinerja penyelenggara SPAM (BUMN, BUMD) dalam hal kualitas, kuantitas, kontinuitas.
2. Meningkatkan kinerja penyelenggara SPAM.
3. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat dan daerah atas kinerja penyelenggara SPAM.

BPPSPAM sudah memberikan hasil kerjanya berupa penambahan PDAM sehat, pengurangan jumlah PDAM sakit. Keadaan ini terus berubah dinamis dari waktu ke waktu. Majalah Air Minum  (MAM) yang diterbitkan PERPAMSI kerapkali merilis liputan perihal kondisi PDAM di Indonesia.

Dalam kinerja demikian, yang menjadi pertanyaan insan air minum adalah sebab-musababnya. Tentu Presiden Jokowi, Menteri PUPR, dan kalangan KSP yang mengetahuinya. Berharap alasan ini bisa diumumkan agar menjadi pelajaran dan perbaikan pada masa yang akan datang. Termasuk apabila tugas, fungsi BPPSPAM dialihakan ke badan, lembaga, atau direktorat jenderal di PUPR, ini pun perlu diketahui oleh insan air minum Indonesia.

Entahlah, bagaimana tanggapan atau komentar insan air minum, PDAM, akademisi, praktisi di sektor air minum, dll.  Komentar, saran, pendapat silakan ditulis di "comment".. 
ReadMore »

14 Juli 2020

Prabowo Membuat Sawah?

Prabowo Membuat Sawah?

Meskipun tidak beruang (ini bukan sejenis hewan, tetapi maksudnya adalah punya uang), orang Indonesia, terutama ayah dan ibu pasti masih tenang apabila masih punya beras. Tidak usah berton-ton tetapi cukup untuk makan sekeluarga selama sebulan ke depan. Bahkan masih ada beras untuk dimakan hanya sepekan ke depan pun masih bisa tenang plus garam atau ikan asin (teri). Sebab, beras adalah bahan makanan pokok mayoritas orang Indonesia yang diolah menjadi nasi. Bisa menjadi nasi putih. Nasi kuning, Nasi merah. Nasi campur. Nasi kebuli. Nasi soto. Nasi bakar. Nasi rames dan banyak varian lainnya. Intinya adalah nasi. Beras. Padi. Sawah. Air. Energi.

Sejak 2004 Pak Prabowo aktif memberdayakan petani dan nelayan. Pernah menjadi ketua umum HKTI: Himpunan Kerukunan Tani (dan Nelayan) Indonesia. Visi misinya tidak pernah lepas dari FEW: Food, Energy, Water. Tiga sumber daya alam ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup dengan indikasi harganya terjangkau oleh mayoritas orang Indonesia.  FEW ini memiliki risiko tinggi terhadap politik. Bisa menentukan jatuh-majunya pemerintah. FEW juga berkaitan dengan masyarakat, dengan warga negara. Tanpa FEW maka pemerintah tidak akan memiliki view pada masa depan pemerintahannya alias bisa saja kolaps di tengah jalan sebelum habis masanya. Bisa didemisioner oleh rakyatnya sendiri.

Kata Dr. Rizal Ramli, kondisi ekonomi Indonesia memang sudah lemah. Makin lemah lagi akibat Corona yang menimbulkan wabah Covid-19 dan bisa berdampak ekonomi dan politik dalam setahun dua tahun ke depan. Dampaknya di seluruh dunia. Terutama kalau vaksinnya belum ditemukan. Atau karena vaksinnya tidak mampu melawan keganasan Corona. Atau karena harga vaksinnya mahal bagi mayoritas orang. Akibatnya, orang-orang di seluruh dunia, terutama yang khawatir pada serangan Corona, akan mengurangi kontak langsung dengan orang lain. Urusan bisnis dan pekerjaan, perdagangan dan pendidikan, travelling dan wisata lokal dan mondial, tidak akan berkembang. Mati perlahan. Maskapai penerbangan pun kolaps, suatu saat kelak. Indikasi ini sudah mulai tampak di PT Garuda (GIA).

Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak buruk terhadap ekonomi dan politik tersebut maka FEW harus tersedia cukup . FEW tidak boleh few (sedikit) apalagi kekurangan. FEW harus cukup untuk seluruh rakyat Indonesia. Stoknya kalau bisa sampai tiga bulan ke depan, sampai panen lagi. Ini untuk padi. Begitu pun singkong, harus digiatkan tanamnya. Ubi pun disebarkan. Talas ditanam di banyak lokasi. Semua sumber karbohidrat itu ditanam sedekat mungkin dengan masyarakat agar transportasinya menjadi murah sehingga harganya terjangkau. Perlu dicoba lagi diversifikasi pangan. Meskipun ini sulit dicapai sejak zaman Orde Baru karena orang Indonesia tidak mudah pindah dari nasi ke singkong, ke jagung, ke talas, dan/atau ke ubi.

Kembali ke pokok tulisan. Siapa yang mampu mengerjakan megaprojek tersebut? Dari sekian banyak menteri dan menteri coordinator, ini secara objektif, yang punya pengalaman di bidang pertanian dan sebagai pelaku pertanian adalah Prabowo. Ada track record-nya, jejak langkahnya di dunia pertanian, perkebunan, perdagangan, perhutanan tanaman industri, pabrik kertas, sawit, peternakan sapi, domba, kuda, dll. Secara objektif juga, dari sisi leadership, adakah menteri Pak Jokowi yang mampu mendirikan partai seperti Gerindra? Begitu juga dari sudut pandang strategi perang yang diterapkan di dalam strategi pertanian dan cs-nya, adakah jenderal yang menguasai strategi perang yang sesungguhnya di lapangan, misalnya di Timor Timur? Atau yang mampu menjadi manajer dan mengelola ekspedisi pendaki gunung dan pembebasan sandera di Papua? Atau adakah menteri di kabinet sekarang yang memimpin pasukan khusus yang pada masanya pasukan itu disegani oleh pasukan khusus negara lain?

Objektifnya demikian dan semua itu bisa ditelusuri di google dot com. Bisa juga dikatakan bahwa kapasitas Prabowo tidak hanya menjadi Menteri Pertahanan dan menteri yang memperkuat ketahanan pangan Indonesia, tetapi juga mampu sebagai presiden RI. Hanya saja, jumlah suaranya yang kalah dari Presiden Jokowi. Tetapi secara kapabilitas, leadership, dan pengalaman memimpin tidak bisa dibandingkan dengan Presiden Jokowi. Bisa dicek dari sisi karirnya sejak masa remaja, atau sejak lulus SMA, atau sejak mulai menjadi tentara. Semua datanya lengkap ada di internet. Apalagi kata ahli politik, keterpilihan dan kemampuan leadership itu adalah dua hal yang berbeda.

Dari data riwayat hidupnya, Prabowo bisa menjadi leader dan menjadi manajer leading sector dalam pembukaan lahan, penanaman, pemanenan, dan distribusi pangan pada saatnya nanti. Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa tentara bisa saja diajak dalam penyiapan food estate di Kalimantan Tengah. Pada masa Orde Baru tentara sudah dilibatkan di banyak kegiatan yang positif seperti AMD: ABRI Masuk Desa. Tentara zeni bisa dan terbiasa membangun jembatan, jalan, membuka hutan untuk daerah transmigrasi dan lain-lain. Mengelola tentara oleh mantan tentara dan sekaligus sebagai Menteri Pertahanan yang memimpin TNI AD, AU, AL maka keberhasilan pembukaan food estate akan semakin besar. Kalaupun gagal, tidak akan gagal seperti Lahan Gambut Sejuta Hektar pada masa Orde Baru. Kalau sukses, tentu untuk bangsa Indonesia semua, bisa makan nasi satu dua tahun ke depan andaikata sinyalemen FAO betul bahwa akan terjadi paceklik di dunia. Krisis pangan yang menyebabkan bencana kelaparan di seluruh dunia.

Semoga bangsa Indonesia, semua WNI bisa makan nasi seperti hari-hari sebelum wabah Covid-19. Aamiin. 

ReadMore »

12 Juli 2020

Potensi Risiko Corona di Ruang Tertutup Ber-AC

Potensi Risiko Corona di Ruang Tertutup Ber-AC 

TVOne dan Kompas TV intensif membahas berita terbaru dari WHO tentang “potensi transmisi Corona di udara/aerosol”. Dalam bahasa positifnya, WHO mungkin berhati-hati karena ini organisasi berskala dunia, sangat dipercaya oleh banyak orang. Meskipun beberapa hari lalu akhirnya Amerika Serikat keluar dari WHO. Tapi ini lain soal. Ini terserah Trump and the ganks.

Kembali ke tema Corona di dalam aerosol. Sebelum 239 orang peneliti ahli yang melaporkan bahwa sebaran Corona bisa lewat aerosol (publikasi 6 Juli 2020), pada medio Maret, The New England Journal of Medicine edisi 17 Maret 2020 merilis surat (letter) dari van Doremalen, Bushmaker, dan Morris. Surat tersebut menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol, empat jam di permukaan tembaga, 24 jam di permukaan karton, dan bertahan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless. Rilis jurnal tersebut sudah saya kutip di dalam artikel yang diterbitkan di koran Pikiran Rakyat edisi 23 Maret 2020. Ini link-nya. 
Tambahan penting dari pernyataan WHO adalah bahwa ruang tertutup seperti ruang kelas murid dan ruang kuliah mahasiswa, termasuk ruang rapat. Akan bertambah besar risikonya adalah ruang yang ber-AC. Corona akan menyebar dan berputar-putar di dalam ruang dan dihirup ke paru-paru oleh semua orang di dalam ruangan itu. Hal ini masuk dalam kajian Indoor Air Pollution (IAP). Agak berbeda dengan potensi sebaran Corona di Outdoor Air Pollution (OAP). Tetapi sangat disarankan, meskipun di luar ruang, agar mengenakan masker. Lebih aman lagi kalau ditopengi dengan face shield (tameng wajah).

Namun demikian, terjadi paradoks di masyarakat. Pada masa awal Corona lebih banyak warga masyarakat yang khawatir, takut, bahkan stress terhadap wabah Covid-19 ini. Pada saat itu yang sakit Covid-19 sangat sedikit. Bahkan dilabeli dengan angka oleh pemerintah, seperti penderita 01, 02, 03, dan seterusnya. Sebaliknya pada Juli 2020 ini, ketika penderita makin banyak, bahkan kasus terbanyak selama ini terjadi di Secapa AD di Hegarmanah Kota Bandung, warga hampir tidak khawatir lagi. Banyak yang tidak bermasker di toko, warung, mall, jalan, dll. 

Warga juga banyak yang berwisata dan menikmati kuliner. Bukan tidak boleh, tetapi protocol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Namun demikian, wanti-wanti WHO beberapa hari lalu justru menjadi lampu merah, warning keras bagi kalangan yang sudah beranggapan bahwa Covid-19 ini memasuki masa aman. Apalagi kalau betul di Indonesia ada dua macam virus Corona yang dampaknya bisa berbeda. Ini kalau betul, tentu makin besar risiko yang dihadapi warga Indonesia, justru pada masa di puncak kebosanan tinggal di rumah, bosan work from home, bosan kuliah atau belajar di rumah. 

Paradoksnya lagi, pemerintah justru sudah membuka luas kantor dan fasilitas komersial, transportasi kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, terminal, dll. Sebentar lagi adalah bioskop, ruang ber-AC yang kedap tertutup. Sungguh patut dipertimbangkan usulan Pak Dahlan Iskan tentang subsidi pemerintah untuk rakyat senilai kurang lebih 125 triliun untuk menghilangkan sebaran Corona. Silakan baca lebih lengkap di website-nya. 

Intinya, saripatinya, bulan kelima wabah Covid ini justru memasuki masa risiko tinggi. Maka, dunia akademik, mulai dari prasekolah, sekolah, hingga kuliah sebaiknya menahan diri dulu. Gunakan fasilitas internet untuk rapat, belajar, mengajar. Keselamatan dan kesehatan anak-anak, cucu-cucu tidak ternilai harganya dibandingkan dengan egoisme sepihak atau parapihak dengan pertimbangan ekonomi dan politik jangka pendek. 

Bagaimana dengan ruang yang tidak ber-AC? Tentu ada beberapa syarat agar aman. Yang pertama, lokasi ruang itu masuk dalam zone hijau menurut kategori gugus tugas Covid-19 setempat. Ini pun dibagi menjadi dua lagi, yaitu (1) ruang yang menerima orang dari berbagai lokasi atau tempat tinggal seperti ruang kantor, dll.; dan (2) ruang yang hanya diisi oleh orang-orang di dalam lingkup terbatas seperti sekolah berasrama (boarding school). Semua murid sudah dinyatakan sehat sebelum masuk ke asrama sekolah dan dilaksanakan protocol kesehatan yang disiplin selama ini. Termasuk semua guru dan pekerja yang ada di dalam lingkup sekolah tersebut. Apabila keluar-masuk setiap hari maka harus dicek minimal dengan thermogun dan bagusnya lagi adalah dengan rapid test rutin atau swab. Biayanya, ini yang harus dicarikan solusinya oleh pemerintah dan sekolah. Kemudian penunjangnya adalah makan makanan sehat, bergizi cukup. Semua makanan terutama sayur harus dimasak, tidak dilalab (dimakan mentah) dan makan buah-buahan yang berkulit seperti pisang. Hindari buah yang langsung dimakan dengan kulitnya seperti anggur, dll.

Yang kedua, ruang tersebut memiliki ventilasi yang bagus. Jendelanya terbuka dan banyak berjejer di dinding ruang. Pintu dibuka selama PBM. Duduk dengan jarak yang cukup, minimal 2 meter. Harus bermasker dan lebih bagus lagi dengan face shield (tameng wajah). Cuci tangan dengan air dan sabun tersedia di luar ruang dan harus antri dengan sabar dan jaga jarak. Disiplin. Yang melanggar selayaknya diperingatkan dan dikenai sanksi hukuman tertentu. Begitu juga ruang tidurnya, tetap dengan protocol kesehatan. Harus banyak ventilasi dan disemprot dengan disinfektan setiap hari oleh murid-muridnya. Minimal dicuci dengan air yang berisi klor (chlorine). Kaporit bisa dibeli di toko kimia setempat atau minta bantuan ke PDAM setempat lewat bupati atau walikota.

Yang ketiga, durasi waktu belajarnya dipersingkat. Tidak lebih dari 45 menit, yang biasanya 90 menit. Pergantian waktu digunakan untuk menyemprot atau membersihkan ruang oleh murid atau petugas. Paparan kognitif untuk sementara ini, selama wabah Covid-19 ini, dikurangi dan ditambah nanti setelah wabah berlalu. Gunakan waktu yang seharusnya kognitif menjadi psikomotorik untuk menguatkan afektifnya. Penambahan ilmunya kecil tetapi penambahan afeksinya lebih besar. Adab, akhlak, mental, karakternya menjadi lebih kuat. 

ReadMore »

8 Juli 2020

H. Usep Romli, HM, almarhum

H. Usep Romli, HM, almarhum

Di dalam postingan seorang teman di Facebook saya baru tahu Rabu, 8 Juli 2020 bahwa Bapak H. Usep Romli, HM sedang sakit. Tampak foto beliau sedang tidur dan di tangannya ada jarum infus. Lokasi perawatan di klinik al Yamin, Limbangan Garut. Saya menuliskan sekalimat doa agar beliau diberikan kesehatan, sehat wal’afiat kembali. Namun satu jam berikutnya saya lantas membaca banyak postingan yang berisi ucapan duka cita. Penulis yang purnatugas sebagai wartawan Pikiran Rakyat dan Galamedia tersebut meninggal sebelum diperiksakan ke RS Al Islam Bandung. Semoga Allah Swt memberikan maghfirah-Nya, memberikan surga firdaus kepada ajengan Bapak H. Usep Romli, HM. Aamiin.

Sebagai Guru
Saya mengetahui sosok beliau dari berbagai jenis tulisan di koran Pikiran Rakyat. Berbagai macam genre tulisan hasil buah penanya nyaris rutin hadir setiap pekan di koran Pikiran Rakyat. Juga di majalah berbahasa Sunda seperti Mangle. Materinya mulai dari cerita pendek, cerita bersambung, opini yang berkaitan dengan ke-Islam-an, laporan liputan dan berita ringkas. Saya juga pernah ikut pelatihan menulis dan jurnalistik yang diadakan oleh Pikiran Rakyat dengan mentor adalah beliau dan Kang H. Enton Supriatna. Acara ceramahnya juga pernah saya hadiri seperti waktu agresi militer Israel atas Palestina khususnya Gaza. Dalam jejak kewartawanannya beliau pernah meliput di Timur Tengah dan Afghanistan.

Setelah purnatugas di Pikiran Rakyat beliau tetap rutin menulis. Sepekan atau dua pekan ada saja muncul buah penanya di koran terbesar di Jawa Barat tersebut. Selain koran, media sosial Facebook menjadi sarana membaca tulisan, pendapat harian tentang masalah pendidikan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya Sunda. Beliau adalah guru dalam kegigihan menulis di media massa agar masyarakat menjadi tercerahkan, lewat karya fiksi dan nonfiksi. Tidak banyak penulis yang melakoni dua jenis karya tulis tersebut, yaitu fiksi dan nonfiksi. Banyak yang fokus pada salah-satu saja...
ReadMore »

5 Juli 2020

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Wali santri yang baru kali pertama menyekolahkan anaknya ke PMDG, baik putra maupun putri, perlu membaca beberapa buku yang berkaitan dengan pesantren. Yang lebih khusus lagi adalah pesantren modern yang bernama PMDG. Apalagi selama wabah Covid-19 akibat dari virus Corona ini para walisantri disarankan tinggal di rumah saja. Putra-putrinya tetap mondok di PMDG yang terus aktif dari jam ke jam sehingga belum sempat menelepon ayah-ibunya. Padat karya, seperti hari ini ada pagelaran Porseni. Lantas bagaimana cara mendapatkan informasi yang berkaitan dengan PMDG?
Ada beberapa buku, fiksi dan nofiksi, yang memberikan informasi tentang PMDG. Yang nonfiksi seperti buku Manajemen Pesantren, Trimurti, dll. Yang buku fiksi seperti trilogi buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, termasuk buku Ayat-Ayat Cinta yang berkisah tentang Mesir, sebuah negara yang menjadi salah-satu tujuan alumni PMDG. Buku-buku tersebut memberikan khazanah ilmu dan pengetahuan tentang pesantren. Adapun buku yang tidak khusus membahas PMDG tetapi membahas tentang pesantren di bawah NU (Nahdhatul  ‘Ulama) adalah Tradisi Pesantren oleh Zamakhsyari Dhofier. Tetapi informasi tentang pesantren (tradisional, salaf) menjadi pembanding yang baik untuk pesantren modern (khalaf) seperti PMDG.

Tentu saja buku tidak bisa menggantikan kunjungan ke pondok, melihat langsung putra-putri, bertatap muka, berpelukan, dan makan bersama. Tidak hanya antara orang tua dan santri, tetapi bersama-sama makan nasi dengan teman-teman dari anak bapak-ibu. Mengajak makan siang atau malam, ditraktir oleh orang tua yang sedang di pondok adalah kegiatan sedekah yang menguatkan silaturahim di antara santri. Informasi tentang anak yang sakit bisa juga diperoleh dari temannya yang sehat yang berbaik hati menelpon orang tuanya, sebagai informasi saja, dan tidak perlu cemas berlebihan.

Perihal buku-buku tersebut, isinya memberikan masukan kepada wali santri tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan di PMDG. Semuanya untuk menguatkan santri, menguatkan pondok, dan menguatkan keikhlasan orang tua dengan akronim TITIP: Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, Percaya. 

ReadMore »

Belajar di Perpustakaan Maya Setelah Pandemi Covid-19

Belajar di Perpustakaan Maya Setelah Pandemi Covid-19
Oleh Gede H. Cahyana

Virus baru yang disebut novel Coronavirus penyebab wabah Covid-19 berawal dari Wuhan di China pada Desember 2019. Di Indonesia wabah ini mulai pada 2 Maret 2020 setelah dua orang sakit akibat virus tersebut. Pemerintah lantas menganjurkan agar pegawai bekerja di rumah, beribadah di rumah, belajar di rumah. Pegawai negeri dan swasta terutama yang bekerja di sektor pendidikan mulai melaksanakan proses belajar-mengajar (PBM) di rumah masing-masing. Guru, dosen, murid, dan mahasiswa menjadi makin akrab dengan internet. Akrab dengan e-mail, aplikasi Zoom, Google Meeting, dan memanfaatkan website dan blog.

Selama PBM tersebut muncul kendala, yaitu kecepatan akses internet. Ada daerah yang kesulitan mendapatkan sinyal. Kendala kedua adalah pulsa dan kuota. Banyak murid dan orang tua mengeluh lantaran kehabisan pulsa dan kuota. Ada karena di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dirumahkan sementara, atau tidak bisa lagi berjualan karena toko dan warungnya tutup atau sepi pembeli. Ada lagi bermacam-macam sebab yang disampaikan oleh orang tua dan murid yang kesulitan ikut dalam kegiatan belajar-mengajar maya (online).

Adapun murid dan orang tua yang tinggal di kota besar umumnya tidak mengalami kendala dalam PBM maya. Akses internetnya lebih mudah dan cepat. Tetapi tetap ada masalah biaya internet karena di kota juga banyak keluarga kurang mampu tetapi anak-anaknya harus ikut PBM maya. Juga kesulitan mencari sumber-sumber ilmu dari situs yang berkompeten. Banyak juga situs yang populer di internet tetapi memerlukan uang tambahan karena harus membayar kalau diunduh (download), terutama situs berbahasa Inggris, Jepang, Korea, Arab, China, Jerman karena dibutuhkan oleh mahasiswa di prodi tersebut.

Dari tahun ke tahun jangkauan internet semakin luas sehingga menjadi peluang bagi perpustakaan untuk lebih banyak lagi memberikan layanan hingga ke pelosok. Tidak hanya perpustakaan di ibukota negara, yaitu Perpustakaan Nasional tetapi juga perpustakaan daerah. Ada sumber-sumber daya yang tidak tersedia di Perpustakaan Nasional tetapi tersedia di perpustakaan daerah. Begitu juga banyak sumber daya yang tidak ada di koleksi perpustakaan daerah tetapi ada di Perpustakaan Nasional. Interaksi maya semua perpustakaan di Indonesia akan memperluas sumber-sumber ilmu bagi masyarakat. Dunia pendidikan dasar, menengah, dan tinggi makin dimudahkan dalam mendapatkan akses ilmu dan teknologi, termasuk dari beragam bahasa di berbagai negara di dunia.

Perpustakaan maya
Sejak telepon seluler Android berkembang pesat semakin cepat pula perkembangan situs berita dan ilmu pengetahuan. Berkembang aplikasi baru, mulai dari permainan (game), bisnis maya, sampai ke situs berkonten negatif. Seolah-olah terjadi persaingan antara situs yang mendidik dan yang merusak. Yang berpeluang menjadi benteng untuk menangkal situs buruk tersebut adalah perpustakaan. Setiap orang yang mendengar kata perpustakaan maka yang terbayang adalah deretan buku teratur rapi yang ditata di lemari dan rak berderet-deret. Masyarakat meyakini bahwa di perpustakaan tersedia banyak ilmu dan informasi teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Masalahnya adalah keinginan membaca buku yang masih perlu ditingkatkan. Masyarakat sudah mulai senang membaca, minimal membaca tulisan di media sosial. Masyarakat juga sudah mulai menulis, yaitu menulis di media sosial. Percakapan dari mulut ke mulut sudah beralih menjadi percakapan dari tulisan ke tulisan. Keadaan ini bisa dijadikan peluang oleh perpustakaan untuk lebih mengenalkan lagi berbagai macam sumber daya ilmu dan teknologi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan harus “menyerang” (dalam tanda kutip) ponsel, laptop dan semua gawai (gadget) yang ada pada setiap orang.

Inovasi yang perlu dilengkapi oleh perpustakaan pascapendemi Covid-19 adalah fasilitas untuk bercerita (story telling) atau layanan kisah (dongeng). Kegiatan bercerita, berkisah atau mendongeng sudah ada sejak dulu. Seorang ibu atau ayah sebelum dasawarsa 1980-an sering mendongeng kepada anak-anaknya. Bahasa yang digunakan biasanya bahasa daerah karena kisah yang dituturkan adalah kisah di daerah tempat tinggalnya. Juga pada waktu itu masih banyak orang tua yang buta huruf dan tunabahasa Indonesia. Tentu ada yang berbahasa Indonesia, umumnya orang tuanya sudah terdidik, lulusan SMA atau perguruan tinggi.

Kegiatan mendongeng ini membekas di dalam alam bawah sadar anak-anak sehingga menjadi memori yang diingat sampai beranak cucu. Sumber dongeng yang terbatas dan diulang-ulang pada dekade sebelum 1980-an itu karena orangtua sulit memperoleh buku. Pendidikan juga tidak tinggi karena di desa atau di kota kecamatan belum ada sekolah. Orang tua yang tunaaksara latin tersebut memiliki beberapa dongeng yang diperolehnya secara turun-temurun dari kakek, nenek, ayah, ibunya. Didukung juga oleh tradisi masyarakat Indonesia yang lebih banyak bertutur daripada membaca dan menulis. Fakta tersebut dapat dimaklumi karena pada masa sebelum 1980-an, apalagi sebelum 1970-an, lebih banyak rakyat Indonesia yang tidak bersekolah. .

Pada zaman sekarang kondisi daerah sudah berbeda. Kebiasaan mendongeng dulu itu bisa diadopsi dan diadaptasi untuk keperluan zaman sekarang ketika internet sudah luas jangkauannya dan perangkat elektronik seperti laptop dan telepon seluler semakin banyak digunakan. Apalagi setelah wabah Covid-19 ini tentu makin menguatkan peran perpustakaan sebagai sumber belajar. Pendidikan menjadi terbantu dan pencerdasan kehidupan bangsa, seperti amanat Pembukaan UUD 1945, lebih bisa dicapai. Buta huruf makin berkurang sampai ke desa karena interaksi sosial di dalam keluarga yang setiap hari bisa mengakses ilmu dan teknologi dari perpustakaan. Maka peluang kerjasama antara Perpustakaan Nasional dan provider internet makin terbuka dan saling menguntungkan. Terutama menguntungkan bangsa Indonesia karena dapat memperbanyak jumlah orang yang berilmu sehingga peluang temuan teknologi baru bisa bertambah signifikan per tahun.

Masyarakat berilmu dikuatkan pembentukannya oleh Perpustakaan Nasional melalui PBM sesuai dengan segmennya. Misalnya segmen untuk balita, TK, SD, SMP, SMA, SMK, santri, dan mahasiswa. Segmen yang banyak diakses adalah segmen anak balita, TK, dan SD. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),1 jumlah anak di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 90 juta orang atau 33% dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini bisa dimanfaatkan oleh play group, TK dan SD di seluruh Indonesia. Guru menjadi fasilitator atau pembimbing selama PBM. Guru bisa menirukan aksi atau peran yang ada di video yang diakses di situs Perpustakaan Nasional. Murid juga bisa membaca dan menyimak dari telepon seluler orang tuanya dan bisa dilaksanakan di rumah masing-masing. Kegiatan PBM bisa dimanfaatkan oleh orang tua yang melaksanakan home schooling. Orang tua yang memiliki waktu bisa melaksanakan pendidikan anak-anaknya dengan memanfaatkan perpustakaan maya. Untuk orang tua yang bekerja di kantor maka pendidikan anak-anaknya diperoleh di sekolah formal yang juga mengakses perpustakaan maya.

Untuk memperkaya khazanah ilmu dan teknologi, maka perpustakaan menyiapkan materi berupa tulisan dan video yang disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Materi tulisan atau buku dan video disiapkan dengan melibatkan guru dan pakar pendidikan. Pembaruan materi dilakukan secara berkala dengan melihat perkembangan ilmu dan teknologi. Pustakawan menyiapkan dan menelusuri sumber-sumber ilmu dan teknologi terbaru kemudian memberikan kepada tenaga ahli yang mengelola situs untuk diunggah (uploaded) sehingga tersedia kebaruan dari waktu ke waktu secara rutin. Pustakawan juga berinteraksi dengan guru, ustadz, kyai, dosen, peneliti, dan aparatur pemerintah untuk menyiapkan materi ilmu dan teknologi yang diunggah di situs perpustakaan. Sumber-sumber ilmu ini terus ditambah dan diluaskan untuk memperkaya khazanah sumber daya perpustakaan.

Dengan demikian bisa dikatakan, wabah Covid-19 ini seperti blessing in disguise bagi perpustakaan. Ada hikmah bagi pengembangan perpustakaan untuk pendidikan, khususnya pembelajaran di semua tingkat sekolah dan perguruan tinggi. Maraknya belajar maya selama wabah Covid-19 menjadi inspirasi bagi dunia perpustakaan. Perpustakaan mampu meraih kembali kata-kata mutiara sebelum dekade 1990-an, yaitu perpustakaan adalah sumber ilmu. Buku adalah jendela dunia. Keliling dunia di dalam perpustakaan. Semua ilmu itu berada di dalam video, audio, dan file-file atau naskah ilmu dan teknologi. Sumber daya klasik yang dimiliki perpustakaan bisa dialihkan bentuknya menjadi digital. Sumber tradisional seperti buku, jurnal, manuskrip menjadi bagian dari kegiatan pustakawan untuk menyiapkannya ke dalam bentuk yang bisa dibaca, dilihat, diunduh di internet.

Tahap digitalisasi
Untuk mewujudkan ide tersebut maka tahap digitalisasi (digitalization)2 menjadi penting. Prioritas pertama diberikan kepada anak usia dini dengan produk digital berupa buku bergambar dan video tentang pendidikan akhlak, etika, budi pekerti. Perpustakaan menyediakan layanan yang mudah diakses oleh anak, guru, dan orang tua. Materi pembelajaran juga dilengkapi dengan tugas yang bisa diunggah secara interaktif. Sekolah formal, informal, dan nonformal bisa memanfaatkan materi tersebut. Juga dilengkapi dengan fasilitas mendongeng, bercerita, berkisah. Perpustakaan mampu membentuk karakter anak dengan memanfaatkan cerita-cerita klasik yang timbul di masyarakat. Cerita asli daerah dan suku-suku yang ada di Indonesia, disiapkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Pembentukan generasi masa depan bangsa Indonesia dimulai dari perpustakaan yang memiliki khazanah budaya asli semua suku bangsa, semua agama yang diakui oleh negara Republik Indonesia.


Untuk membiayai situs tersebut perpustakaan memperoleh pendapatan dari iklan yang ditayangkan, yaitu iklan yang berkaitan dengan pendidikan, pembelajaran yang diperkuat oleh peraturan pemerintah dalam izinnya. Pendapatan itu pun digunakan lagi untuk memperoleh sumber-sumber ilmu dari seluruh dunia agar materi yang dimiliki perpustakaan bisa bertambah sehingga tidak membosankan bagi anak-anak, murid, dan mahasiswa. Perpustakan akhirnya bisa menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik untuk generasi masa depan bangsa Indonesia. Pendidikan dilaksanakan dengan memanfaatkan perpustakaan maya yang ada di genggaman tangan murid dan mahasiswa.*
ReadMore »

28 Juni 2020

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Waktu itu Gontor berusia 10 tahun. Tepatnya tanggal 19 Desember 1936. Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal (1901-1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908-1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985) pada acara tersebut memaparkan sejarah Pondok Gontor Lama dan perjuangan Pondok Gontor Baru. Acara dilaksanakan di Balai Pertemuan Kaum Muslimin yang lantas diubah menjadi Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) sampai sekarang.

Tamu undangan yang hadir adalah wakil Gusti Kanjeng Bupati Ponorogo, Bendoro Patih Ponorogo, 800-an undangan, 20 wakil organisasi massa saat itu, peneliti orientalis Belanda dari Malang dan Kediri, wartawan daerah dan luar daerah, dan ribuan orang warga di sekitar pondok. Di tengah dominasi kekuasaan kolonial Belanda yang selalu curiga pada kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh orang Indonesia, kegiatan ikrar berdirinya KMI itu berhasil dan sukses.

Pada tanggal tersebut Trimurti mengubah nama Pondok Gontor Lama menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak itulah berlaku kurikulum KMI hingga sekarang. Nama “Modern” pada zaman itu, tahun 1936, membuat nilai plus dalam pandangan masyarakat. Kata "Modern" ini mendahului zamannya. Nama Pondok Modern lantas dikenal hingga ke luar pulau Jawa, yaitu Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Garis keturunan pendiri Gontor, yaitu Trimurti bisa diketahui sampai Kuncen Caruban (Kyai Ageng Besari) dan Kanjeng Pangeran Hadiraja Adipati Anom dari Kasepuhan Cirebon. Silsilah terlampir pada Gambar 1.

Adapun perjalanan hidup Trimurti dalam masa awal pengembangan PMDG ada di Gambar 2. 

Gambar 1. Silsilah Trimurti

Gambar 2. Perjalanan hidup Trimurti


ReadMore »

27 Juni 2020

Desain IPAL a la CORONA

Desain IPAL a la CORONA

Dalam mendesain IPAL dikenal istilah kriteria desain (KD)/perancangan (design criteria) yang dihimpun dari berbagai penelitian laboratorium dan penelitian lapangan di IPAL. Oleh sebab itu, angka-angka di dalam KD tersebut memiliki rentang, mulai dari angka terendah hingga tertinggi. Untuk mendesain IPAL tentu harus membagi IPAL menjadi unit operasi dan unit proses yang masing-masing memiliki KD yang khas. Bahkan pada unit yang sama bisa disebutkan angka-angka KD yang berbeda-beda karena bentuk baknya berbeda, atau karena arah aliran airnya berbeda. Bisa juga karena jenis air limbah yang diolahnya berbeda. Bervariasi. 

Perlu diingat juga bahwa KD yang sama pada sebuah unit operasi atau proses bisa saja menghasilkan kinerja pengolahan yang berbeda. Banyak sebabnya. Mulai dari pH, temperatur (ini relatif kecil pengaruhnya apabila perubahan temperatur hanya satu atau dua derajat Celcius), konsentrasi nutrien, trace mineral, pasokan oksigen, ada tidaknya konstitune toksik, dll.

Desainer IPAL tentu harus mengacu pada standar perancangan atau KD yang sudah mapan sambil mengikuti perkembangan ilmu di sejumlah jurnal ilmiah tentang unit operasi dan unit proses di dalam IPAL. Atau bisa juga meneliti sendiri (bersama team peneliti) KD yang tepat untuk air limbah tertentu dan UO-UP yang tertentu juga. Mahasiswa juga harus mempelajari KD yang sudah ada di buku ajar (textbook) dan di jurnal ilmiah. Bisa dibaca di dalam buku Wastewater Engineering: Treatment and Disposal, tahun cetak 1991, lalu judulnya berubah menjadi Wastewater Engineering: Treatment and Reuse, tahun cetak 2003, kemudian berubah lagi, dan akan ada penambahan materi baru dan perubahan angka-angka KD temuan terbaru. Dalam mendesain IPAL, tentu menggunakan KD tersebut menjadi logis dan responsible sebelum mampu meneliti sendiri (bersama team peneliti lainnya) dan menghasilkan KD yang baru. 

Praktis Teknis
Untuk keperluan praktis di pabrik dan untuk memudahkan mengingatnya, maka istilah CORONA, sejenis virus yang mengakibatkan wabah Covid-19, dimanfaatkan sebagai acuan atau patokan dalam desain IPAL. Ada sejumlah poin penting dalam desain (perancangan) IPAL yang ditulis dalam akronim CORONA. Poin ini diperlukan sejak tahap perencanaan (planning), perancangan (designing), pembuatan (construction), pengoperasian (operation), perawatan (pemeliharaan, maintenance).

C: Concentration, terutama adalah konsentrasi COD dan BOD, termasuk ratio BOD/COD. Juga semua konstituen karakteristik fisika, kimia, biologi yang menjadi acuan dalam analisis kualitas air limbah. Konsentrasi ini sangat penting dalam desain dan dalam operasi dan perawatan IPAL. Konsentrasi ini mengacu pada peraturan yang berlaku seperti effluent standard dan stream standard di sebuah negara (daerah). Dengan angka rasio BOD/COD dan baku mutu air limbah olahan yang berlaku di sebuah daerah maka desainer bisa merancang unit operasi (UO) dan unit proses (UP) yang akan digunakan. 

O: Overflow rate, laju limpahan atau limpasan, berkorelasi juga dengan surface loading atau beban permukaan, yaitu rasio debit air yang diolah (Q = quantity) terhadap luas bak (kolam) pengolahnya. Biasanya digunakan dalam mendesain unit sedimentasi atau klarifir/clarification. Bisa juga untuk mengetahui laju filtrasi sebuah filter, desain proses koagulasi – flokulasi, tidak hanya di dalam IPAL dengan pengolahan kimia tetapi juga di dalam IPAM (pengolahan air minum). Desainer mengacu pada textbook yang sudah diakui otoritasnya di dalam pengolahan air limbah, sebelum mampu menulis KD baru hasil penelitian sendiri (bersama team peneliti) yang angkanya berbeda dari KD yang ada selama ini.

R: Recirculation, rasio resirkulasi debit sludge terhadap debit air limbah yang diolah. Bisa juga rasio antara debit efluen yang diresirkulasi terhadap debit air limbah yang diolah. Konfigurasi resirkulasi bergantung pada desainer IPAL. Variasi resirkulasi ini banyak sehingga kalkulasi desain di dalam perancangannya harus diperinci, dibuatkan tabel sehingga memudahkan dalam membandingkan antara satu R dengan R lainnya. Faktor mekanikal elektrikal menjadi penting di dalam resirkulasi sludge ini, misalnya jenis pompa yang digunakan apakah screw pump atau submersible pump, head (suction dan discharge), valve dan distribusi lokasi atau titik jatuh sludge di dalam unit bioreaktor. 

O: Operation-maintenance, ini berkaitan dengan operasional harian IPAL dan pemeliharaan unit operasi dan unit proses, juga mekanikal – elektrikalnya. Unit utama biasanya adalah blower dan pompa beserta jaringan pipanya. Distribusi udara (oksigen) ke setiap bagian unit pengolah (aerasi) harus sesuai dengan KD. Yang kedua adalah pembubuhan zat kimia seperti koagulan, flokulan, nutrien, dan trace mineral. Juga pengaturan pH, berkaitan dengan netralisasi, pompa dosing kapur, soda, dll. Termasuk sumber listrik cadangan berupa generator set yang langsung hidup pada saat listrik PLN mati. Listrik (ME) sangat penting bagi IPAL. Sekali listrik mati dalam waktu yang lama sehingga IPAL menjadi gagal-olah, maka perlu waktu lama untuk mencapai kondisi optimalnya. 

N: Nutrient, yaitu nutrisi yang diperlukan oleh mikroba selama biodegradasi, baik aerobic maupun anaerobic process. Yang utama adalah senyawa nitrogen dan senyawa fosfat. Termasuk micronutrient atau trace mineral yang dibutuhkan oleh archae atau anaerobic bacteria. Nutrien ini sangat dibutuhkan karena air limbah (terutama air limbah pabrik) berbeda-beda. Ada air limbah yang banyak berisi nutrient ada juga yang sedikit nutriennya atau tidak memiliki nutrient. Bioproses sangat mengandalkan nutrient agar optimal dalam menurunkan BOD, COD. Oleh sebab itu, IPAL yang mengolah air limbah yang miskin nutrien maka sebaiknya air limbah septic tank dimasukkan ke dalam IPAL tersebut. Tentu dengan pengawasan ketat agar racun dari karbol dan disinfektan lainnya tidak malah membasmi mikroba di unit bioreaktor.

A: Aeration rate, berlaku untuk aerobic process, yaitu laju aerasi untuk memasukkan oksigen ke dalam air limbah di unit aerasi per satuan waktu. Ini berkaitan dengan blower dan pemipaannya. Termasuk natural bioprocess seperti di dalam oxidation pond, khususnya unit fakultatif (facultative pond) dan maturasi (maturation pond). Begitu juga di dalam proses aerasi untuk pengurangan besi dan mangan di dalam air minum di IPAM. Oksigen berperan penting di dalam IPAM dan IPAL (aerobic process). Laju aerasi ini berbeda-beda menurut jenis aerator yang digunakan. Di dalam textbook sudah banyak dibahas formula untuk mendapatkan debit dan konsentrasi oksigen yang harus dimasukkan ke dalam air limbah dikaitkan dengan BOD atau COD air limbah dan rujukan BOD-COD yang ingin dicapai. 

ReadMore »

26 Juni 2020

Gontor di Film Negeri 5 Menara

Film Negeri 5 Menara

Orang tua capel yang ingin mengetahui beberapa aktivitas di Gontor bisa melihatnya di film Negeri 5 Menara. Film Negeri 5 Menara ini diproduksi oleh Kompas Gramedia bekerjasama dengan Million Pictures yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi berjudul sama. Skenario ditulis oleh Salman Aristo yang biasa menulis naskah film-film laris Indonesia dan disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman. Film ini dibuat di 4 lokasi syuting, yaitu di Sumatera Barat, Pondok Pesantren Madani Gontor Ponorogo Jawa Timur, Bandung, dan London (Inggris).
Negeri 5 Menara mengangkat nilai-nilai persahabatan dan kebersamaan anak-anak remaja santri di sebuah pondok pesantren Islam dengan latar belakang adat dan suku yang berbeda. Mereka bersama-sama berjanji dan bersungguh-sungguh untuk meraih mimpi dengan filosofi Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasilnya).

Kisah bermula dari seorang Alif (Gazza Zubizareta) yang baru saja lulus dari SMP di Maninjau yang harus berpisah dengan sahabatnya Randai (Sakurta Ginting) dan mengubur mimpinya melanjutkan studi ke Bandung serta cita-citanya untuk meneruskan kuliah di ITB agar seperti idolanya BJ. Habibie. Dia merelakan semuanya untuk menuruti amanat Amaknya (Lulu Tobing) dan Ayahnya (David Chalik) yang ingin agar Alif masuk pesantren di pulau Jawa dan berharap Alif bisa berguna bagi khalayak, seperti Buya Hamka dan Bung Hatta.

Singkat cerita, Alif pun merantau ke pulau Jawa dan diterima menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren Madani. Di pesantren, pada mulanya Alif lebih sering menyendiri karena harus menguatkan hati merelakan keinginannya demi bisa membahagiakan orang tuanya. Tapi di kemudian hari, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul untuk berbincang membicarakan mimpi-mimpi mereka di menara masjid dan menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.

Seperti naturalnya film yang diadaptasi dari novel tebal, ada kesulitan tersendiri mengingat ekspektasi pembaca novel yang selalu mengharapkan film harus lebih bagus dari novelnya. Kebanyakan pembacapun memiliki film tersendiri dan alur cerita di kepalanya masing-masing. Kesulitan ini terasa di film yang memang agak berjalan lambat di awal. Turning point film ini terjadi saat Alif dan kawan-kawan disentak oleh pedang dan kesan mendidik yang tak biasa dari Ustad Salman (Donny Alamsyah). “Ingat! Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh. Man Jadda Wajada!” Begitu katanya berulang-ulang hingga bergema dan diikuti seisi ruang setelah berhasil memotong kayu dengan sebilah pedang karatan.

Di bawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukkan dunia dan mencapai cita-cita menjadi orang besar, yaitu orang yang besar jiwanya untuk membuka dunia di pelosok-pelosok negeri dengan tanpa pamrih. Film ini sarat dengan pesan moral, inspirasi, tekad, dan bumbu konflik menarik yang membuat penonton terpingkal oleh ulah para Sahibul Menara. Juga pengetahuan bahwa pendidikan Islam khususnya pesantren tidak melulu terkungkung dari peradaban dan budaya lain. Di pesantren juga ada teknologi, seni, jurnalisme, bahasa Inggris, dan musik, bukan cuma pelajaran agama.

Ada sebuah petikan pelajaran dalam film ini bahwa harapan dan mimpi-mimpi yang besar mampu menciptakan orang-orang hebat. Hebat dalam menghidupkan mimpi dan mewujudkan harapan menjadi kenyataan. Man Jadda Wajada! *
ReadMore »

24 Juni 2020

Trimurti Gontor dan Trilogi Pendidikan

Trimurti Gontor dan Trilogi Pendidikan

Trimurti
Trimurti adalah The Founding Fathers Gontor baru. Gontor Modern. Beliau adalah K.H. Ahmad Sahal (1901-1977), K.H. Zainuddin Fanani (1908-1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985). Sebelumnya sudah ada Pondok Tegalsari pada paruh pertama abad ke-18, sekitar 10 km di selatan kota Ponorogo. Alumni Pondok Tegalsari ini ada yang menjadi kyai, ‘ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah pada masa itu, negarawan, pengusaha, dll. Misalnya, Paku Buwono II atau Sunan Kumbul di Kerajaan Surakarta, R. Ng. Ronggowarsito (seorang pujangga), HOS. Cokroaminoto, seorang tokoh pergerakan nasional.


Selanjutnya keturunan dari Pondok Tegalsari, yaitu Kyai Sulaiman Jamaluddin mendirikan pondok di desa Gontor, 12 km di tenggara kota Ponorogo, tiga kilometer di timur Tegalsari. Beliau adalah cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Gontor (atau Gontor Lama) ini berkembang pesat pada waktu dipimpin oleh putra Kyai Sulaiman Jamaluddin, yaitu Kyai Archam Anom Besari. Karena kurang kaderisasi, pada masa Kyai Santoso Anom Besari Gontor Lama mulai surut. Setelah Pak Kyai Santoso wafat, maka hanya ibu Nyai Santoso dan tujuh anaknya yang mengelola pondok. Ibu Nyai Santoso lantas menyekolahkan tiga putranya yang kemudian mendirikan Pondok Gontor baru.

Pondok Gontor baru ini resmi pada Senin Kliwon, 20 September 1926, 12 Rabi’ul Awwal 1345 yang kemudian dikenal sebagai Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Dalam proses pendidikannya, Trimurti mengenyam pendidikan modern Belanda, pendidikan tradisional Islam, dan pendidikan modern Islam. Ketiga pendidikan ini mewarnai pendidikan dan pengajaran di PMDG. Maka setelah pendidikan dasar Tarbiyatul Athfal (1926), enam tahun kemudian, yaitu tahun 1932 berdiri Sullamul Muta’allimin, lantas diresmikan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah pada tahun 1936 dan berlangsung hingga sekarang. Selanjutnya adalah pendidikan tinggi, yaitu ISID yang kemudian berkembang menjadi UNIDA Gontor: Universitas Darussalam Gontor.

Trilogi Pendidikan
Bagi Gontor, yang terpenting adalah mental skill. Bukan Job Skill. Dari tiga skill di dalam Trilogi Pendidikan, maka afektif mendapat prioritas pertama. Afektif atau mental atau karakter atau akhlak menjadi pondasi. Kognitif atau akademis dan psikomotorik atau teknis lebih mudah dicapai. Tentu boleh memacu kognitif dan bakat, juga keterampilan, tetapi karakter atau akhlak harus lebih dipacu lagi. Mental skill atau afektif dapat menggerakkan otak (kognitif) dan fisik (psikomotorik). PMDG berupaya mengutamakan mental skill ini. Oleh sebab itu, mencuri sebiji permen saja di koperasi pondok, tentu kalau ketahuan oleh ustadz penjaganya, maka santri langsung diproses untuk dikeluarkan (dipecat). Sebuah permen? Ya…hanya sebuah permen.

Itu sebabnya, pendidikan karakter yang ramai di media massa beberapa tahun lalu itu sudah sejak awal dilaksanakan di PMDG. Mendapat posisi utama dalam pendidikan.  
ReadMore »

23 Juni 2020

Sejarah Suspension of Hajj

BRIEF ACCOUNTS OF SUSPENSION OF HAJJ IN ISLAMIC HISTORY

Around 40 times in history the Hajj was either cancelled or the number of pilgrims was extremely low according to the King AbdulAziz Foundation For Research And Archives, and this idea is not as unprecedented as perceived.

Among the many factors were:
• Epidemics/Diseases 
• Political turmoil
• Economic turmoil
 
• Instability of security
 
• Conflicts
• Activities of bandits and raiders

Some years and events when Hajj was either suspended or interrupted:
1. 251 AH / 865 AD:
Ismail bin Yusuf Al-Alawi known as Al Safak and his forces led a rebellion against the Abbasid Caliphate and massacred thousands of pilgrims who were gathered at the Arafat Mountain near Makkah, forcing the cancellation of the Hajj.

2. 317 AH / 930 AD: 
Arguably the most infamous event was when a sect called Qaramitah who considered the Hajj to be a pagan ritual led by Abu Tahir Qaramitani carried out a vicious attack on Makkah during the Hajj season. According to historic accounts, the Qaramitans massacred 30,000 pilgrims while mockingly chanting verses of the Quran at them burying them in their places without bathing or shrouding or Janazah prayer. They dumped 3,000 bodies into the sacred well of Zamzam and then destroyed it completely. They also stole the Black Stone from the Ka’bah and took it to their base in the east of Saudi called Hajr (modern day Qatif) for 22 years. It is said that sadly for 10 years after this event the Hajj was not carried out.

3. 357 AH / 968 AD:
It is said that this year it was cancelled because of the spread of the so-called “Al-Mashiri disease” in Makkah, and because of it the pilgrims died, and their camels died on the way from thirst and only a few of them arrived in Makkah.

4. 390 AH & 419 AH / 1000 AD & 1028 AD:
Hajj was suspended due to extreme high costs and inflation. For the same reason nobody did Hajj from the East and from Egypt in 419 AH.

5. 492 AH / 1099 AD:
Hajj was not performed because of the turmoil and lack of security that befell the Muslims throughout their large state due to the raging conflict between themselves, and for five years before the fall of Jerusalem to the hands of the Crusaders.

6. 654 AH / 1256 AD:
Apart from Hijaz no other country performed Hajj for four years due to ongoing conflicts.

7. 1213 AH / 1799 AD:
Hajj trips stopped during the French Revolution due to the routes being insecure.

8. 1246 AH / 1831 AD:
In more recent accounts, a plague coming from India spread and caused the deaths of a staggering three quarters of the pilgrims.

9. Years 1252 AH to 1310 AH / 1837 AD to 1892 AD:
The epidemics spread in various years from 1837 AD until 1892 AD with thousands dying daily. In 1871 it struck Madinah. This outbreak known as Cholera spread during the Hajj season, as deaths spiked in Arafat and peaked in Mina.

10.  Year 1441 AH / 2020 AD:
The Coronavirus pandemic (COVID-19) caused suspension of international pilgrims performing Hajj.

(Source: Haramain, FB)




ReadMore »

8 Juni 2020

Pak Dokter, Ini Belum Normal

Pak Dokter, Ini Belum Normal

Video wawancara seorang dokter beredar. Isinya tentang Corona. Bye-bye Corona. Corona tidak semengerikan yang diberitakan. Kurang lebih inilah inti video tersebut. Di tulisan ini saya ingin urun rembug. Ingin urun pendapat dengan dokter di Kota Mataram NTB tersebut dengan pendapat yang berbeda. Demi siapa? Tentu demi kesehatan kita. Kesehatan orang tua, istri/suami, anak-anak, cucu, cicit, adik dan kakak, ipar dan keponakan. Juga kesehatan teman sejawat, sahabat di dunia maya, dan saudara-saudara kita.
Dunia kedokteran memang menyatakan bahwa obat demam, batuk, pilek adalah istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi. Tidak perlu antibiotik. Kalau lebih dari tiga hari, barulah perlu ke dokter. Artinya, penyakit seperti itu memang bisa mudah sembuh dengan istirahat dan makan makanan bergizi. Tetapi virus Corona baru ini berbeda. Bahkan karakteristiknya berubah-ubah. Novel Coronavirus penyebab Covid-19 ini cepat menginfeksi orang. Bahkan ada kejadian, pasien yang dinyatakan sembuh tetapi beberapa hari kemudian meninggal karena sesak napas. Diduga terjadi penggumpalan di pembuluh darah di paru-parunya. Koagulasi ini tentu bisa terjadi di pembuluh darah lainnya dan fatal risikonya.

Sudah ditulis di artikel sebelumnya, yaitu *New Normal, Sudah Waktunya?*, tersedia di link artikel ini, https://bit.ly/2AMIhZ6 bahwa pada awal Juni 2020 Indonesia masih di fase eksponensial. Minimal fase retardasi atau pelambatan laju penularan. Tetapi belum masuk ke fase stationary. Apalagi fase declining. Masih butuh waktu. 

Dengan merujuk pada berita bahwa uji cepat (rapid test) di perbanyak, termasuk PCR, maka paling cepat bisa dicek adalah 14 hari setelah pengambilan sampel. Betulkah dilaksanakan uji hingga 15.000 (atau bahkan 20.000 uji) perhari? Bagaimana distribusi lokasinya? Berapa persen di Jawa Timur, di Kalimantan, di Sulawesi, di DKI, di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, dll? Apabila uji sudah sebanyak itu dan berlangsung sebulan atau dua bulan dan hasil positifnya cenderung menurun, maka baru bisa diperkirakan fase decline-nya dengan relatif akurat. Baru bisa dinyatakan berada di depan gerbang new normal (tetapi belum masuk ke dalam fase new normal).

Kepada masyarakat, hendaklah tetap meyakini bahwa virus baru ini lebih ganas daripada virus lainnya yang sudah dikenal, seperti SARS dan MERS. Di seluruh dunia, per tanggal 8 Juni 2020, hampir tujuh juta orang terinfeksi, dan lebih dari 400 ribu orang meninggal. Karena sudah diumumkan sekarang sebagai fase new normal oleh pemerintah pusat atau PSBB transisi di DKI dan daerah lainnya, maka silakan laksanakan kegiatan sehari-hari, tetapi tetap kenakan masker, tambah lagi dengan tisu di dalamnya. Cuci tangan dengan sabun di air yang mengalir. Jaga jarak semester atau lebih dengan orang lain. Sulit memang, apalagi kalau duduk di angkot, di bis, di halte, di tempat umum. Tetapi lebih baik dilaksanakan daripada berisiko sakit karena novel Coronavirus ini.

Sudah disebut di artikel sebelumnya bahwa dunia akan mulai tatanan baru apabila vaksin virus ini sudah ditemukan, sudah diproduksi massal, dan harganya terjangkau oleh mayoritas masyarakat dunia, terutama masyarakat di negara-negara miskin seperti di Afrika. Asia Selatan, Amerika Selatan. * *Gede H. Cahyana*, Pengamat Sanitasi Lingkungan.
ReadMore »

6 Juni 2020

New Normal, Sudah Waktunya?

New Normal, Sudah Waktunya?
Oleh Gede H. Cahyana

Rencana new normal yang disampaikan pemerintah pusat menimbulkan pertanyaan. Sudahkah waktunya? Tergesa-gesakah? Apakah mengarah ke herd immunity atau dalam istilah lain adalah prinsip the survival of the fittest, yang terkuat yang bertahan hidup? Tentu masyarakat juga paham bahwa geliat ekonomi menjadi alasan utama untuk memulai new normal. Perlu disampaikan bahwa ini bukan soal setuju atau tidak setuju. Tetapi ini semata-mata masalah waktu. Kapankah waktu yang tepat untuk new normal (normal baru)?
Sebelum muncul wacana normal baru, sudah ada warga yang ingin segera membuka usaha menjelang Idulfitri. Keinginan ini bisa dimaknai sebagai ingin segera kembali berusaha, bekerja, berjualan. Ingin kembali normal. Berkaitan dengan hal ini, warga masyarakat terbelah menjadi dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok yang ingin segera bekerja atau membuka usaha. Umumnya di sektor perdagangan seperti pemilik toko, warung, jualan di pasar, pemilik mall dan pekerjanya. Termasuk pemilik bisnis transportasi seperti angkot, bis, ojek pangkalan dan online, travel. Juga bisnis pariwisata seperti hotel, biro jasa wisata, taksi, rental motor dan mobil. Mereka berupaya untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sembako dan biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang nyaman work from home, bekerja di (dari) rumah dan tetap berpenghasilan. Mereka merasa aman dari bahaya Covid-19 karena sedikit berinteraksi dengan masyarakat luas tetapi tetap produktif di bidang pekerjaannya. Finansial tetap tersedia meskipun tidak berlebih dengan mengatur konsumsi harian, membagi kebutuhan menjadi primer, sekunder, dan tersier. Biaya sekolah dan kuliah anak-anak bisa menjadi masalah bagi sebagian di antara kelompok kedua ini. Terlebih lagi yang anaknya banyak. Kelompok kedua ini ada yang menjadi pegawai negeri atau ASN ada juga yang pegawai swasta.

Jika demikian, tentu ada parameter yang bisa dijadikan tolokukur untuk menyatakan bahwa keadaan sudah normal, yaitu normal baru, normal yang berbeda dengan normal sebelum pandemi. Cara yang paling tepat untuk mulai memberlakukan normal baru adalah dengan merujuk pada basis data epidemiologi, demografi, dan geografi (wilayah, daerah hingga ke RT/RW). Tentu tidak mudah memperoleh data akurat sampai ke daerah terkecil karena keterbatasan uji swab dan uji cepat (rapid test). Juga keterbatasan alat dan bahan di laboratorium, keterbatasan tenaga medis, dan kendala biaya.

Namun demikian, statistik membantu dalam membuat perkiraan (forecasting). Bisa dibuat kurva insidensi epidemi dengan memasangkan waktu dan jumlah orang yang sakit. Yang harus dianalisis adalah data perkembangan jumlah korban, kecenderungan jumlah yang sembuh, penurunan jumlah yang meninggal yang diiringi dengan peningkatan uji swab di seluruh kabupaten dan kota. Dugaan secara epidemiologis inilah yang akan memberikan hasil akurat perihal waktu untuk memulai status normal baru. Setiap daerah memiliki kurva khas masing-masing.

Selain itu bisa juga dibuat analogi dengan meninjaunya dari aspek mikrobiologi. Aspek ini memberikan pandangan apakah normal baru bisa dilaksanakan pada bulan Juni 2020 ini ataukah tidak. Apakah bisa secara nasional atau hanya daerah tertentu saja.

Analogi mikrobiologi
Secara mikrobiologi, normal baru adalah kondisi setelah wabah (pascapandemi) yang sudah melewati fase penurunan (declining). Di dalam jurnal Annu. Rev. Microbiology, 1949: 3: 371-394, Jacques Monod menjelaskan pola pertumbuhan bakteri. Monod yang bekerja di Pasteur Institute di Paris, Prancis adalah orang pertama yang menulis tentang grafik pertumbuhan bakteri. Kurva pertumbuhan bakteri ini bisa dijadikan analogi untuk persebaran wabah oleh novel Coronavirus. Sekali lagi disebutkan bahwa kurva ini adalah analogi pertumbuhan dan pengurangan jumlah penderita Covid-19, bukan kajian epidemiologis. Kurva Monod ini hanya pendekatan untuk memperoleh gambaran awal, apakah sudah waktunya normal baru atau belum.

Kurva dimulai dari fase lag, yaitu tahap adaptasi dengan laju pertumbuhan nol. Fase lag ini di Indonesia terjadi pada Januari sampai dengan medio Februari 2020. Sebagian orang Indonesia, terutama yang bermain media sosial memberikan perhatian pada kasus Corona di Wuhan, China. Pada periode ini pemerintah pusat menanggapi dengan santai dan memberikan ujaran senda-gurau di media massa. Berikutnya adalah fase akselerasi, yaitu percepatan laju pertumbuhan tetapi belum ada yang dinyatakan sakit karena belum banyak uji swab, juga belum ada uji cepat (rapid test). Ini berlangsung hingga medio Maret 2020, dua pekan setelah Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada dua orang yang sakit akibat Corona pada 2 Maret 2020.

Mulai pekan ketiga Maret 2020 terjadilah fase eksponensial, yaitu kenaikan laju pertumbuhan jumlah penderita. Laju yang tinggi ini terus naik selama beberapa waktu sampai memasuki fase pelambatan (retardation) ketika laju pertumbuhan mulai menurun. Dalam skala nasional, yang tentu berbeda dengan kejadian di daerah-daerah, pada awal Juni 2020 masih berada di fase eksponensial. Sampai kapan? Sampai tercapai puncaknya dengan indikasi terjadi laju pertumbuhan nol sehingga jumlah pertambahan penderita relatif konstan dari hari ke hari. Ini disebut fase stationary. Fase ini bisa berlangsung beberapa pekan bergantung pada perilaku hidup dan interaksi sosial masyarakat.

Terakhir adalah fase penurunan (decline), yaitu laju pertumbuhan negatif yang artinya jumlah penderita berkurang seiring dengan pergantian hari. Lama waktunya juga bergantung pada perilaku masyarakat dalam interaksi sosial di sekitar rumah, di pasar, toko, mall, dan di tempat kerja. Termasuk kesungguhan penegakan hukum oleh aparatur terhadap warga masyarakat yang melanggar. Setelah ini dilewati barulah masuk ke fase new normal, yaitu ketika lajunya tidak berkurang lagi tetapi stabil. Stabil artinya naik dan turun silih berganti secara dinamis sehingga masyarakat menjadi terbiasa seperti halnya terbiasa dengan penyakit akibat virus lainnya.

Patut dipahami oleh masyarakat bahwa normal baru adalah keadaan yang diasumsikan normal dalam kehidupan sosial masyarakat dan konsisten melaksanakan protokol kesehatan dari hari ke hari. Sampai kapan? Sampai ditemukan vaksin yang betul-betul mampu melawan novel Coronavirus dan vaksinnya sudah diproduksi masal dan murah harganya. Boleh jadi anak balita pun akan diberikan vaksi ini seperti vaksin lainnya. 

Dengan berpatokan pada temuan vaksin inilah maka tatanan dunia baru atau new normal bisa dinyatakan valid di seluruh dunia. Semua orang di dunia tidak akan merasa terancam lagi oleh wabah Covid-19.*
ReadMore »