• L3
  • Email :
  • Search :

30 April 2019

Tips Menulis Bab HASIL & PEMBAHASAN

Tips Menulis Bab Hasil dan Pembahasan
Oleh Gede H. Cahyana

Di dalam buku laporan Tugas Akhir biasanya bagian ini ditulis di dalam satu bab, yaitu bab Hasil dan Pembahasan. Bagaimana tips-nya?

Mahasiswa harus melihat dan membaca lagi subbab yang ada di Bab 1. Tulislah beberapa subbab dengan dua atau tiga kata yang sesuai dengan tujuan Tugas Akhir. Aculah pada subbab tentang rumusan masalah, ruang lingkup, dan tujuan penelitian atau perancangan. Pikirkan subbab yang merujuk pada poin-poin tersebut, frase apa yang cocok, yang mampu mewakili idenya. Inilah yang dijadikan judul subbab di bab Hasil dan Pembahasan.
Tulislah hasil penelitian atau perancangan yang diperoleh. Hasil ini biasanya berupa data (angka). Usahakan data yang sudah diolah, bukan data mentah. Tampilkan data tersebut dalam bentuk tabel atau gambar (grafik), atau desain yang menjadi ide utama apabila TA berupa perancangan. Informasi yang ditulis di dalam tabel atau gambar atau desain tersebut harus mampu menjelaskan tema utama yang menjadi bahasannya. Tulislah bahasan hasil tersebut dengan menggunakan kalimat sederhana atau simpel. Memang boleh saja dengan kalimat majemuk atau campuran tetapi jangan terlalu panjang. Yang bagus, kalimat sederhana, kalimat majemuk tersebut divariasikan dan dengan kosa kata yang variatif, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. 

Prinsip utamanya adalah jelas atau terang. Lantas tulislah argumentasi yang bisa menguatkan hasil penelitian atau perancangan tersebut. Bisa dengan mengutip dari makalah atau artikel sejenis yang menguatkan. Bisa juga dari teori di buku teks. Usahakan berasal dari sumber pustaka terbaru agar tulisan menjadi up to date. Penjelasan hendaklah runtut, runut, mengalir dan logis yang dikuatkan oleh penelitian orang lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kutipan-kutipan ini akan menambah kekuatan argumentasi dalam pembahasan. Artinya, usahakan memperoleh artikel di jurnal-jurnal nasional dan internasional dengan tema yang hampir sama dengan TA atau skripsi yang ditulis. 

Begitu seterusnya sampai semua tujuan yang ditulis di Bab 1 tuntas dibahas. 


Tips menulis TA

Tips Menulis Abstrak

ReadMore »

28 April 2019

Burung-Burung UKRI

Burung-Burung UKRI
Oleh Gede H. Cahyana

Hanya satu dua atau tiga empat ekor seliweran burung di udara UKRI. Itu pun burung emprit dan sejenisnya. Ada beberapa sarang yang pernah jatuh berisi telur-telur tetasan. Ini terjadi karena sedikit sumber makanan di dalam kampus, terutama sumber biji-bijian dari jenis-jenis pohon berbuah yang warna, harumnya mampu menarik burung untuk hinggap dan bersarang. Sisa makanan seperti nasi, beras, atau bebijian lainnya relatif sedikit, terkumpul di tong sampah yang sulit diendus burung. Selain itu, mungkin burung takut dan terbang lagi karena ada banyak mahasiswa lewat.
Makanan berlimpah, sarang yang aman dan nyaman menjadi faktor penting dalam habitat burung. Ragam tanaman (tumbuhan) dan sebarannya di area kampus adalah penentu jumlah burung yang tertarik tinggal dan beranak-pinak. Misal, taman di balai kota Bandung, meskipun di tengah kota yang bising, tetapi karena rindang dan banyak makanan, maka burung pun betah terbang, hinggap dan bersarang di sana. Begitu juga di taman Ganesha, banyak pohon beragam jenis, banyak makanan sehingga burung pun banyak di sana. Puluhan taman lainnya juga sama, riuh oleh suara cicit cuit.  

Luas kampus UKRI hampir satu hektar. Pohon dan tanaman bunga lainnya tumbuh di halaman parkir, di bagian tengah dan belakang kampus. Berjenis anggrek juga dipajang di koridor dan pedestrian kampus. Pot-pot bunga merata ada di setiap prodi. Bahkan ada pohon yang masih terus tumbuh, menjulang melebihi gedung tiga lantai, ditanam sejak awal pambangunan kampus (pada masa Uninus). Merujuk pada peraturan yang ada, yaitu UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasan untuk RTH (Ruang Terbuka Hijau) adalah 30%. Tetapi ini adalah tugas pemerintah daerah. Masyarakat dan institusi tidak kena kewajiban ini, tetapi dihimbau agar di rumah atau kantor-kantornya disediakan ruang terbuka hijau. Hijau asli maksudnya, bukan pohon-pohon imitasi yang tidak bisa menghasilkan oksigen, tidak mampu menyerap pencemar karbondioksida. Juga bukan cat temboknya yang hijau.. J.
Untuk menambah suasana ekologis maka UKRI terus menanam dan memelihara taman bunga dan pohon. Beberapa pohon adalah sumbangan dari Dinas Pertamanan Kota Bandung yang diserahkan kepada HMTL Wasser beberapa tahun yang lalu. Saking banyaknya pohon yang dihibahkan kepada UKRI, sampai-sampai tidak ada tempat lagi sehingga dibagikan kepada dosen, karyawan dan masyarakat sekitar. Beberapa pohon ditanam di sisi jalan di sekitar kampus. Ada pohon yang ditanam oleh Prof. Dr. Ir. Benny Chatib, M.Sc, dosen Teknik Lingkungan ITB. Juga ada pohon yang ditanam oleh Dr. Ir. Setiawan Wangsaatmaja, M.Eng, waktu itu sebagai Kepala BLH Provinsi Jawa Barat. Sebetulnya ada juga pohon yang ditanam oleh kalangan narasumber dari PSLH ITB, tetapi mati atau ditebang.

Saat ini UKRI terus berbenah. Di semua bidang. Akademik dan non-akademik. UKRI menuju kampus “ijo royo-royo”, yang indah, yang bersih, yang nyaman, yang aman, yang beriman. Itu sebabnya, pada Rabu, 24 April 2019, mahasiswa peserta MK Pengetahuan (Pendidikan) Lingkungan bebersih kampus, praktik lapangan bidang persampahan. Sekilas memang. Tapi pembiasaan harus dicoba terus, di rumah, di asrama, dan di mana saja, agar menaruh sampah di tempatnya. Aspek kognitif sudah bagus, tinggal peningkatan aspek afektif dan psikomotorik.
Tentu tak hanya mahasiswa, juga dosen dan karyawan lainnya. Bersih adalah bagian dari iman. Juga agar tidak kalah oleh Rachel Carson, seorang ibu yang menulis buku The Silent Spring, Musim Bunga Yang Sunyi. Buku ini menginspirasi senator dari Seattle: Gaylord Nelson dan berakhir pada Earth Day. Setiap tanggal 22 April, pemerintah, ormas, LSM, dan kampus yang peduli selalu memperingati Hari Bumi.

Bumi hanya satu. Harus dirawat. Mulai dari yang kecil, yaitu UKRI. Mulai dari diri sendiri, yaitu persona masing-masing. Mulai sekarang juga, tidak besok. Satu cara dari banyak cara yang bisa ditempuh adalah melepaskan burung di kampus. Pada Sabtu, 27 April 2019, Pak Dr. Boyke Setiawan, M.M., rektor UKRI melepaskan burung di kampus. Burung-burung UKRI ini adalah ide beliau. Burung “Love Birds” pun adalah milik beliau, dipelihara di pojok kanan - depan kampus. Awal yang baik ini harus diikuti dengan menyediakan habitat yang nyaman dan aman bagi burung tersebut. Mulai dengan pepohonan rindang dan sumber makanan. Lingkungan sekitar kampus sudah mendukung, ada pepohonan tinggi rindang di jalan-jalan di sekeliling kampus.

Mahasiswa yang suntuk karena materi kuliah, bisa refreshing di dekat kandang burung sambil menghirup udara segar dan wangi bunga. Calon mahasiswa dan orang tuanya juga bisa lihat-lihat kampus sambil cuci-mata oleh warna-warni burung. Welcome to Eco-UKRI.*

ReadMore »

25 April 2019

Prabowo Sandiaga 62,20% LAPITEK UKRI

Pada hari Selasa tanggal 23 April 2019, LAPITEK, LPPM, BPM, UPT-TIK dan Rektorat telah melaksanakan rapat untuk membahas hasil penelitian LAPITEK UKRI yang berkaitan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2019-2024. Jumlah sampel adalah 8.000 TPS yang diambil secara acak di 34 provinsi di seluruh Indonesia.


Merujuk pada hasil rapat tersebut diperoleh persentase suara seperti di bawah ini :
Nomor Urut
Nama Capres dan Cawapres
Hasil (%)
01
Joko Widodo – Ma’ruf Amin
35,92
02
Prabowo Subianto – Sandiaga Uno
62,20

Suara tidak sah
1,88
Total
100

Berdasarkan pada hasil tersebut diperoleh kesimpulan bahwa Prabowo Subianto – Sandiaga Uno memimpin raihan suara sebesar 62,20%. Perbedaan suara dengan Joko Widodo – Ma’ruf Amin sebesar 26,28%. Raihan suara Prabowo - Sandiaga tersebut berubah dinamis antara 61% - 63%. 

Demikianlah hasil penelitian ini kami sampaikan kepada khalayak dan kami mengucapkan terima kasih atas atensi semua pihak.

Bandung, 25 April 2019
Hormat kami,

LAPITEK UKRI




ReadMore »

6 April 2019

Siapa Penama Gatot Koco untuk Prabowo?

Siapa Penama Gatot Koco untuk Prabowo?

Pada saat debat capres Pak Prabowo menirukan gerak tokoh wayang, yaitu Gatot Koco. Tokoh ini memang dikaguminya sejak masa kanak-kanak. Karena tokoh ini tegar dan tegap, gestur Gatot Koco tentu sesuai dengan pakem dalam pewayangan. Tidak mungkin Prabowo menari dengan lenggang-lenggok a la penari Jawa yang sedang melakoni Dewi Subadra. Makanya menjadi aneh ketika netizen mengomentari dan mengejek bahwa Pak Prabowo kaku geraknya, tidak bisa menari. Gatot Koco ya begitulah.


Siapa yang mengenalkan tokoh Gatot Koco itu? Ternyata kakeknya, Margono Djojohadikusumo. Kakeknya ingin Prabowo memiliki jiwa ksatria seperti karakter Gatot Koco. Menjadi ksatria itu ada falsafahnya, yaitu sabdo pandito ratu. Artinya, ucapan seorang pemimpin itu seperti undang-undang. Makanya harus berhati-hati dalam berucap. Pemimpin harus memenuhi ucapannya, menunaikan janji-janjinya. Kepercayaan adalah modal utama seorang pemimpin. Agar dipercaya, maka seorang pemimpin tidak boleh berbohong. Yang diucapkan harus sesuai dengan yang dilaksanakan. Setiap janji harus ditepati.

Ucapan seorang pemimpin harus bisa dipegang. Jangan jam dua bilang tahu, tapi jam empat sudah jadi tempe. Jangan beri janji yang tidak bisa dipenuhi. Jangan bilang iya kalau cenderung bermaksud tidak. Ini yang disebut integritas. Jujur adalah syarat integritas. Kemudian harus punya kapasitas dan kapabilitas. Capacity dan capability. Kemampuan. Minimal dua hal tersebut yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh pemimpin. Integritas dan kapabilitas. Inilah tafsir atas sabdo pandito ratu. 

ReadMore »

25 Maret 2019

Garis Menang, Menang Tanpo Ngasorake

Garis Menang, Menang Tanpo Ngasorake

Apa indikator bahwa bangsa Indonesia menang? Adakah garis kemenangan? Bagi Prabowo, garis kemenangan tercapai ketika mimpi orang Indonesia, Indonesian dream menjadi nyata. Ada faktanya. Misal, anak petani banyak menjadi dosen dan profesor, anak nelayan bisa menjadi pengusaha ikan yang kaya, anak pedagang kaki lima bisa menjadi pemilik mall dan restoran, anak buruh bisa menjadi jenderal, dst.
Garis kemenangan bangsa Indonesia adalah ketika ekonomi tumbuh pesat, pendidikan tingkat prasekolah, sekolah dasar dan menengah, dan pendidikan tinggi bisa ditempuh oleh semua anak dan remaja Indonesia, sesuai dengan kemampuan fisik dan psikisnya, kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosinya (EQ). Juga kecerdasan spiritualnya (SQ).

Namun kemenangan yang diperoleh itu harus tanpa ngasorake. Tanpa merendahkan. Sikap batin ini pastilah sulit, tetapi harus coba dilaksanakan. Seperti musiman, kasus HAM selalu saja menjadi senjata bagi orang yang berbeda haluan politik dengan Pak Prabowo. Tahun 2014 diungkit-ungkit, lalu dibiarkan sepi senyap selama 4,5 tahun, dan diungkap lagi saat ini, selama masa kampanye 2019. Bahkan anehnya, yang mengungkit-ungkit itu pun rekam jejak di bidang HAM juga dipertanyakan, tidak jelas, bahkan cenderung terlibat.

Pertanyaan menyudutkan itu tidak dibalas dengan pertanyaan lain yang serupa, tidak ikut menyerang, tidak memojokkan lawan. Tidak sindir mereka, tidak sinis kepada mereka, bahkan sebaliknya, dipuji dan dihormati pendapat mereka. Pak Prabowo menghormati lawan secara sportif. Bahkan, apabila lawan politik yang menang dalam kontestasi, Pak Prabowo tetap menghormati dan mendukungnya walaupun berat. Yang ini sudah dilaksanakan, bahkan tanpa menyerang ke arah pribadi lawan ketika debat.

Menang bagi Pak Prabowo adalah menang dengan elegan, menang dengan jiwa besar, tetapi lawan tetap bisa menegakkan kepala tanpa dinistakan.

(Diadaptasi dari buku Indonesia Menang)
ReadMore »

13 Maret 2019

Hari Air Dunia 2019 dan Prabowo’s FEW

Hari Air Dunia 2019 dan Prabowo’s FEW

Dalam debat Capres, Pak Prabowo selalu mengutip akronim FEW. F = Food, E = Energy, W = Water. Pangan, energi dan air. Harus swasembada. Wajib mandiri. Air minum misalnya, sangat mahal untuk ukuran orang Indonesia. Itu sebabnya, pemutusan kerjasama pengelolaan air minum DKI Jakarta oleh Gubernur Anies Baswedan menjadi bagian dari spirit dan cita-cita FEW Pak Prabowo. 
Begitu tingginya manfaat air, maka PBB selalu memperingati World Water Day, Hari Air Dunia setiap tanggal 22 Maret. Tahun ini temanya adalah “Leaving No One Behind”. Semua orang harus menikmati kemudahan dan kemurahan air, tanpa kecuali. Rakyat miskin harus diproteksi dan dibantu untuk memenuhi kebutuhan airnya, terutama air minum.

Tentu ironis atau paradoks terjadi di Indonesia. Konstitusi memuliakan air sebagai milik rakyat Indonesia, yaitu UUD 1945 pasal 33 ayat 2, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Kalimat tersebut bermakna bahwa negara bertanggung jawab dalam menjamin dan menyediakan air untuk semua WNI. Leaving No One Behind, begitu kata tema HAD 2019. 

Maka, UU No.7 tahun 2004 adalah kecelakaan konstitusi karena bertentangan dengan hukum tertinggi negara RI. Juga Peraturan Pemerintah No. 16/2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Tetapi akhirnya, Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tersebut karena tidak memenuhi enam prinsip dasar pembatasan pengelolaan sumber daya air pada Februari 2013. 

Namun demikian, nilai positif dari peraturan tersebut adalah munculnya kegiatan air minum di berbagai kementerian dan dinas terkait sehingga sudah mampu membantu luasan layanan air minum untuk masyarakat terutama yang di bawah garis kemiskinan. Yang perlu diperbaiki adalah efisiensi atau efektivitas penggunaan anggaran di APBN, APBD agar tidak bocor atau meminimalkan kebocorannya. 

Opsi solusi bidang air, juga pangan dan energi ditulis di dalam buku Paradoks Indonesia dan Indonesia Menang. Bidang air, misalnya, kondisi pasokan dan pengolahan air ini dijadikan acuan oleh Pak Prabowo untuk memperbaiki tataatur air dalam lingkup ruang dan waktu sehingga harmonis dengan pasal sosioekologis, yaitu pasal 33 UUD 1945. 


Itu sebabnya, Pak Prabowo, apabila dipercaya oleh mayoritas WNI untuk memimpin NKRI, berketetapan untuk memisahkan Kementerian Lingkungan Hidup dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian PU dengan Kementerian Perumahan Rakyat. Khusus air, bisa juga dibentuk Kementerian Air Minum dan Air Limbah untuk fokus pada swasembada air. 

“Segala sesuatu yang hidup itu dijadikan dari air.” ***
--------------------------------------------------------------
ReadMore »

9 Maret 2019

Prabowo, Pendidikan, dan Pekerjaan

Prabowo, Pendidikan, dan Pekerjaan
Oleh Gede H. Cahyana

Sejak 1991 ketika masih menjadi perwira menengah di TNI AD hingga sekarang, Prabowo adalah pengurus dan kemudian menjadi ketua YPK. Dewan Pembina (Penyantun) waktu awal itu adalah Prof. Soemitro, Pak Hashim, Prof. Zuhal, dan Farid Prawiranegara (anak Presiden/Ketua Pemerintahan Darurat RI (PDRI) Mr. Sjafruddin Prawiranegara). 


Prabowo dikenal sebagai sosok peduli pada petani, nelayan, buruh, olahraga, dan pendidikan. Keluarganya terdidik, bahkan sejak abad ke-18. Prabowo mewarisi kecerdasan kakek dan ayahnya, fasih berbahasa asing. Ia lahap membaca buku, terutama buku tokoh-tokoh dunia, buku sejarah, humaniora. Ia cinta bangsa, negara bangsa. Yayasan yang didirikan ayahnya pun bernama Yayasan Pendidikan Kebangsaan.

Bagaimana perhatiannya pada pekerjaan? Bersama Pak Hashim, seperti yang dikatakannya pada Studium Generale Renaisans Indonesia yang digelar di Universitas Kebangsaan RI pada Jumat, 8 Maret 2019, Pak Prabowo peduli pada pengembangan generasi muda. Cita-citanya ialah memberikan kesempatan kepada anak muda, muda-mudi, generasi milenial untuk belajar dan bekerja di bidang masing-masing. Beasiswa disediakan dan pekerjaan difokuskan untuk pemuda pemudi Indonesia, bukan orang China.

Bersama Bang Sandiaga, Pak Prabowo memiliki road map (peta jalan dan arah pengembangan) tenaga kerja konvensional seperti yang sudah dilaksanakan dalam bisnisnya dan akan mengembangkan prioritas industri 4.0 untuk generasi milenial. Apalagi didukung oleh Bang Sandiaga yang dikenal sebagai pemuda baik sejak remaja, orang yang semua gajinya ketika menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta disedekahkan untuk anak bangsa dan punya garis keturunan yang jelas dan baik.

Bang Sandi berprinsip: “Bekerja adalah ibadah.” Banyak-banyaklah ibadah dengan cara bekerja dalam hal penciptaan jenis-jenis pekerjaan untuk generasi muda. Bang Sandi dan Pak Prabowo ingin menghormati kaum milenial dengan penciptaan lapangan kerja, bukan dengan memberikan kartu bagi para pengangguran. Sebab, bekerja adalah ibadah. ***
ReadMore »

24 Februari 2019

Jenderal Purn. Wesley K. Clark

Jenderal Purn. Wesley K. Clark
Oleh Gede H. Cahyana

Jenderal tentara Amerika Serikat ini bertubuh tinggi. Relatif kurus. Mengingatkanku pada Kolonel Trautman yang menjadi atasan Rambo di dalam film First Blood (tentu tidak persis, agak mirip dengan fotonya ketika masih aktif di militer, he he). Dalam paparannya, secara khusus beliau menulis dan membahas negara China sebagai ancaman Amerika Serikat, selain terorisme, financial system, global warming. Teknologi informasi yang demikian maju dan menjadi ajang dan alat untuk spionase, baik di bidang perdagangan maupun militer dan pertahanan – keamanan. China luar biasa. Derap langkahnya sejak membuka “tirai bambu” mampu menyusul dan bahkan malampaui negara-negara G7. Setidaknya menyamai.


Ideologi komunis yang diselimuti dengan perdagangan membahayakan ideologi kapitalis anutan Amerika dan kawan-kawan di G7. Tentu bahaya juga bagi negara Indonesia yang berasaskan sila pertama Pancasila. Maka, dalam kondisi Non-Block ini, Indonesia menjadi lemah karena gamang dalam membuat keputusan. Tapi positifnya, bisa kanan, juga bisa kiri asalkan cerdas memainkan bidak dalam percaturan politik regional Asia Tenggara, Asia, dan internasional. Sebab, kesalahan atau keliru, seperti empat tahun terakhir ini, tentu berimbas pada kondisi politik, sosial, dan ekonomi dalam negeri. Tenaga kerja China menjadi isu utama di Indonesia. Imbas sosialnya berbahaya karena bisa berkembang menjadi “tidak-percaya pada pemerintah.


Hampir satu jam Jenderal Purn. Wesley K. Clark menyampaian materinya. Sebagai mantan komandan NATO di Kosovo, Mr. Clark menguasai geopolitik kawasan Asia Pasifik dan Eropa. Ia jenderal lapangan, bukan di belakang meja. Dalam acara ini, audiens yang hadir mayoritas adalah mahasiswa, karyawan, dan dosen Universitas Kebangsaan RI. Di balkon Amphitheater Hambalang itu duduk anggota paduan suara dan kalangan Gerindra. Di sayap kanan bagian depan adalah purnawirawan TNI, teman-teman Pak Prabowo Subianto. Saya lihat ada Pak Suryo Prabowo, Pak Tedjo yang mantan menteri kabinet Pak SBY. Di bagian tengah, baris depan duduk Pak Prabowo Subianto, Bu Rachmawati Soekarnoputri, ada Pak Rizal Ramli, Fadli Zon, Sudirman Said, Said Didu, Bambang Widjojanto, Ichsanudin Noorsy, dll tokoh nasional. Sedangkan kami duduk di sayap kiri, mulai baris depan hingga ke belakang, penuh dengan civitas academica Universitas Kebangsaan RI.

Setelah shalat Jum’at, acara dilanjut dengan jamuan makan bersama di “wantilan”. Ini bahasa Bali untuk tempat yang bentuknya indah ini.Ukiran kayu jati sebagai sokoguru dan ornamen di bagian plafon (atau atap) bercat keemasan. Ini mengingatkan saya pada bale-bale di Bali, terutama bale kalangan keraton raja-raja Bali. Acara ini diiringi lantunan musik dan lagu “on the spot”, mulai lagu tempo dulu dalam dan luar negeri hingga Poco-poco. Kaki pun ikut bergoyang, hentak-hentak lantai, dan telapak tangan refleks naik-turun.*

ReadMore »

12 Februari 2019

Almarhum Prof Dr Iftikar Z Sutalaksana

Almarhum Prof. Dr. Iftikar Z. Sutalaksana
Oleh Gede H. Cahyana

Hari Selasa, 12 Februari 2019, ITB kehilangan lagi seorang gurubesar. Beliau dosen di Teknik Industri.  Prof. Dr. Iftikar Z. Sutalaksana. Akhir paruh kedua 1980-an saya mengambil mata kuliah Psikologi Industri sehingga kenal dengan mahasiswa jurusan TI. Mereka bilang, “duh… bapak itu ngganteeng sekali!” Mahasiswa laki dan perempuan sepakat, pada waktu itu, bilang begitu. 


Saya pun jadi ingat, satu kota, namanya Roseto. Beliau bercerita tentang cardiac disease. Penyakit ini tumbuh secara geometri di komunitas orang Italia di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ini terjadi karena life behavior, habit dan kebiasaan baru berupa hidup soliter dan individualis. Beliau kupas sepenggal ayat:  “Wahai nafsu (jiwa) yang tenang, Al-Fajr: 27. Paparan elaborasi terhadap loncatan teknologi dan kegamangan jiwa manusia pada era nanoteknologi ini, menjadikan manusia seolah-olah tak beda dengan primata, menjadi asfala saafiliin: jauh lebih hina ketimbang hewan (At Tiin: 5). Begitu ujarnya.

Pak Iftikar juga cinta batik. Hampir sepuluh tahun lalu, koran Pikiran Rakyat menulis tentang batik. Bagian prolognya bercerita tentang batik yang dikenakan oleh Pak Iftikar ketika mempertahankan disertasinya di Eropa. Tidak seperti lazimnya semua mahasiswa di Eropa yang berjas, baik bule maupun nonbule, Pak Iftikar justru minta izin untuk mengenakan batik ketika ujian disertasinya. Promotornya mengizinkan, lantas..., dekannya pun akhirnya mengiyakan. Jadilah beliau sebagai orang pertama di Eropa, mungkin juga di dunia, yang berbatik ketika sidang doktoral. Bahkan, batik bersejarah itu, masih disimpannya hingga kini.

Semoga almarhum diampuni semua dosa dan kesalahannya dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. ***
ReadMore »

10 Februari 2019

Prof. T. M. Soelaiman, Bapak Perintis Energi Baru Terbarukan Indonesia

Prof. T. M. Soelaiman, Bapak Perintis Energi Baru-Terbarukan Indonesia
Oleh Gede H. Cahyana

Matahari adalah sumber energi. Energi surya ini gratis di seantero Bumi. Surya dan Pak TM, begitu beliau dipanggil, bagai dua-satu. Dua materi yang berbeda tetapi satu: manfaat. Manfaat yang hendak diambil adalah perbedaan panas antara air di permukaan laut dan di bawah laut. Konversi Energi Panas Laut (KEPL) atau Ocean Thermal Energy Conversion, OTEC). Rencana implementasi OTEC ini sudah demikian matang. Negara yang disertakan adalah Belanda. Amerika Serikat, dan Jepang. Lokasinya pun sudah dipilih, yaitu Bondalem, kurang-lebih 30 km di timur Singaraja, Bali.  


Tapi sayang, waktu itu Bappenas menolak pembiayaan karena dianggap memerlukan investasi dari luar negeri. Padahal waktu itu sudah ada PT Bakrie Brothers untuk penyedia pipa, PT Barata sebagai produsen generator dan turbin juga bisa dibuat di dalam negeri. Bahkan waktu itu, Jepang sempat ingin minta data rencana projek OTEC tersebut tetapi di larang oleh Pak B. J. Habibie selaku ketua BPPT. Mantan presiden pasca-Orba ini menegaskan harus ada kontrak resmi yang ditandatangani. Jepang menolak. Jepang hanya ingin teknologinya tetapi tidak mau membiayai. Cilik… eh licik!

Di ITB ada Laboratorium Konversi Energi Elektrik. Tahun 1985, saya sering kuliah di Gedung Kuliah Umum, GKU (Barat, Catatan: waktu itu belum ada gedung kuliah GKU timur). Setiap ke gedung megah di tepi Jln. Tamansari itu, selalu melewati laboratorium tersebut. Ide pengembangan energi di ITB, beberapa materi lainnya, menghadapi halangan. Tapi beliau jalan terus. Jalan ke kampus lain. Jasa lain Pak TM adalah pengembangan jurusan (prodi) bidang energi di berbagai universitas seperti Trisakti dan Sriwijaya. Juga mengajarkannya kepada mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Diponegoro, Gadjah Mada, Sebelas Maret Solo, Muhammadiyah Malang, dst.

Pak TM membayangkan bahwa suatu saat kelak, dunia akan memasuki abad hidrogen. Memang sudah. Hidrogen dan oksigen yang bereaksi dan melepaskan energi digunakan sebagai propelling pesawat luar angkasa dan astronotnya meneguk air jernih hangat di kabin-kabin mereka. Berbagai kendaraan percontohan sudah mulai berbahan hidrogen. Kanada, Amerika Serikat, Jerman, dst sudah berkutat dalam pemanfaatan unsur bernomor atom satu ini. Di setiap seminar, Pak TM selalu mengingatkan bahwa hidrogen akan menjadi pengganti minyak. Beliau pun sedih, Indonesia sudah menjadi pengimpor BBM.

Pada waktu kuliah, Pak TM adalah seorang penemu di Amerika Serikat. Ada dua temuannya yang mengubah ilmu dan teknologi. Temuan yang berkaitan dengan lokomotif itu begitu menggemparkan insinyur elektro dan mesin di sana. Orasi ilmiah Pak TM direspons positif oleh anggota American Institute of Electrical and Electronic Engineers Society. Meskipun se-Amerika, anggotanya berasal dari insinyur elektro di seluruh dunia. Beliau adalah orang Asia pertama yang presentasi dan mengumumkan temuannya kepada publik di Amerika Serikat. Ada dua temuan besar yang beliau serahkan kepada General Electric (GE).

Beliau lahir di Jakarta, 5 Mei 1926. Dalam usia empatpuluhan tahun, beliau menjadi satu di antara pendiri Masjid Salman ITB. Bersama almarhum Prof. Achmad Sadali, Pak TM menjadi motor pendirian masjid Salman. Berat perjuangan pendirian masjid ini karena ditolak oleh rektor dan senat ITB. Akhirnya Pak TM ada ide mengajak Pak Achmad Sadali menemui Bung Karno. Bung Karno setuju dan bertanya kepada Menteri Agama, “siapa nama teknokrat pertama dalam Islam”. Dijawab oleh Pak Menteri, “Salman Alfarisi.” Jadilah namanya masjid Salman. Pak TM juga menjadi satu di antara yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Sunda. Banyak kegiatannya di dunia pendidikan dan pendidikan Islam. Jiwa pendidiknya ini muncul sejak usia sepuluh tahun. Di usia itu, Pak TM sudah mengajar. Selain ilmu alam, juga mengajari temannya bahasa Arab gundul atas permintaan ayahnya, seorang tokoh NU.

Di ITB, sebetulnya beliau bisa menjadi rektor, tetapi “sesuatu” terjadi. Akhirnya yang terpilih adalah Prof. Dody Tisnaamidjaja. Beliau sudah pernah menjadi rektor Universitas Kiansantang yang beliau ubah menjadi Universitas Islam Bandung (sebagai rektor pertama Unisba). Juga pernah menjadi rektor pertama Institut Teknologi Adityawarman (ITA) di bawah pengelolaan Yayasan Bumi Pradesa yang sekarang menjadi Universitas Kebangsaan, dibawah Yayasan Pendidikan Kebangsaan sejak 1990-91. Ketua pertama YPK adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Setelah beliau meninggal, diteruskan oleh anaknya, Letnan Jenderal TNI (Purn). Prabowo Subianto.

Hari Ahad, 10 Februari 2019, siang hari, beliau meninggal dalam usia 93 tahun. Semoga almarhum Bapak Prof. T. M. Soelaiman diampuni dosanya, dimaafkan kesalahannya oleh Allah Swt dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. *** 

ReadMore »

28 Januari 2019

Debat Kedua Pilpres 2019: Pangan Energi Air, dll

Debat Kedua Pilpres 2019: Pangan, Energi, Air, dll
Oleh Gede H. Cahyana

(Tulisan berikut adalah tema debat calon presiden pada 17 Februari 2019, yaitu pangan, energi, air (SDA), lingkungan hidup, dan infrastruktur).

*** 
Pasal 33 UUD 1945 adalah modal konstitusional bangsa Indonesia dalam ekonomi dan ekologi. Inilah pasal yang peduli pada kelestarian fungsi sumber daya alam (SDA): air, tanah, dan udara. Secara politis, pasal sosioekologis ini mendahului pidato terkenal senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, di Seattle tahun 1969. Pidato bertema advokasi lingkungan ini disambut antusias rakyat Amerika Serikat sehingga ditetapkan menjadi Earth Day pada tanggal 22 April 1970.

Di Indonesia, wanti-wanti agar kita peduli lingkungan sudah dirilis oleh Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 sudah mengingatkan pemerintah Orde Baru bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Harus ada teknologi protektif (protective technology) atas lingkungan. Idenya itu dipublikasikan setahun sebelum Orde Baru membentuk Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Menneg KLH) pada tahun 1978.

Mengacu pada pasal 33 UUD 1945 tersebut, ada tiga poin penting dalam visi misi Prabowo–Sandi, yaitu: (1) Swasembada pangan, (2) Swasembada energi, (3) Swasembada air bersih, (selain (4) Lembaga pemerintahan yang kuat, (5) Angkatan perang/tentara yang kuat). Tiga hal pertama, yaitu pangan, energi, dan air, biasa disebut FEW: Food, Energy, Water selalu terkait dengan SDA, hutan, iklim global, industrialisasi, dan kebencanaan (gempa, tsunami, letusan gunung, topan, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, dst).

Air Minum
Bumi adalah planet yang kaya air. Biasa disebut Planet Air. Tak kurang dari 70% diliputi air. Mayoritas berupa air laut (97,3%). Sisanya adalah air tawar di sungai, danau, waduk, kolam, air tanah, es, salju, gletser, dst. Air tawar menjadi sumber air baku untuk air minum, industri, dan kebutuhan perkotaan. Tetapi potensi air tawar ini terus berkurang. Terjadi krisis air minum pada musim kemarau di banyak kabupaten di Indonesia. Sungai, danau, waduk, embung menyusut airnya, bahkan ada yang kering.

Itu sebabnya, pemerintah harus menggiatkan pembuatan embung, waduk, dan sistem storasi lainnya. Pada saat yang sama, melaksanakan konservasi daerah tangsap (tangkap dan resap) air hujan, dan menghutankan kembali bukit dan gunung yang gundul. Daerah bekas hutan ini jangan diganggu sehingga secara alamiah bisa menjadi hutan kembali dalam jangka waktu 25 tahun. Cara ini untuk memulihkan daya dukung lingkungan yang terus berkurang akibat pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan dan ledakan jumlah penduduk dan kurangnya lapangan kerja di desa dan kota.

Di bidang teknologi pengolahan air minum, bisa dikatakan bahwa PDAM sudah mampu mengolah air dengan cara yang baik dan benar. Air sungai yang keruh sudah bisa diubah menjadi air minum. Air lautpun sudah bisa dijadikan air tawar yang layak diminum. Hanya saja, investasi dan biaya operasi-rawatnya masih mahal. Perlu terus diperluas riset dan terapan teknologi yang murah tetapi tepat guna untuk masyarakat desa, petani, nelayan, dan penduduk permukiman kumuh (slum area) di kota-kota besar.

Air Limbah
Mayoritas air minum atau air bersih akan berubah menjadi air limbah. Tak kurang dari 85% air minum berubah menjadi air limbah. Apabila satu orang menggunakan 100 liter air perhari untuk minum, mandi, cuci, kakus, maka yang dibuang adalah 85 liter perhari. Volume air limbah ini bervariasi menurut lokasi geografis (tropis, subtropis), topografis (gunung, pantai), budaya, agama, pendidikan, dan status ekonomi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah mengangkat isu air limbah dalam peringatan Hari Air Dunia (World Water Day) tanggal 22 Maret 2017. Isu ini untuk melindungi kesehatan masyarakat, mencegah perusakan sumber daya lingkungan dan degradasi perairan akibat kontaminasi air limbah. Hingga saat ini mayoritas air limbah domestik dibuang langsung ke badan air atau diresapkan ke dalam tanah. Begitu juga air limbah industri, menyebar dan mencemari tanah dan air, sekaligus kehilangan sumber nutrien dan zat kimia yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Paradigma “olah-buang” ini hendaklah diubah, bahwa air limbah bernilai tambah, baik air limbah tinja (black water, septic water) maupun air limbah cucian (grey water). Keduanya bisa digunakan untuk produksi pupuk, siram tanaman, halaman ruang terbuka hijau, air pendingin dan irigasi.

PBB sudah mendeklarasikan bahwa akses terhadap air minum dan sanitasi (air limbah) adalah Hak Asasi Manusia (HAM) dan didukung oleh 122 negara pada September 2010. Banyak negara di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Selatan yang berkutat dengan kesulitan air minum dan keburukan sistem sanitasi air limbah. Di Indonesia, menurut Kementerian PUPR, tingkat layanan total pengelolaan air limbah kurang lebih 56%. Ini pun dalam mutu pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang belum optimal, baik secara biaya ekonomi maupun efisiensi unit operasi dan prosesnya. IPAL sistem setempat (on-site) di wilayah perkotaan Indonesia sekira 72% sedangkan sistem terpusat (off-site) 2,33% di 11 kota di Indonesia. Adapun di perdesaan, dengan menggunakan jamban pribadi dan fasilitas umum mencapai 33%.

Untuk peningkatan kualitas layanan dan kualitas infrastruktur dan suprastrukturnya, maka integrasi perencanaan (planning), perancangan (designing), pembangunan (constructing), supervisi (supervising), operasi dan perawatan (operation – maintenance) perlu dikoordinasikan sejak awal sebuah projek dengan melibatkan berbagai kementerian dan dinas terkait. Tujuannya ialah ekoefisiensi, yaitu kombinasi efisiensi ekologi dan efisiensi ekonomi. Kita juga harus meniru perilaku alam yang tidak pernah menghasilkan limbah. Limbah adalah sisa produksi yang harus bisa dijadikan bahan baku oleh proses produksi lain dengan cara daur ulang dan daur guna. Waste for one is added value for another.

Reboisasi Hutan
Ada ungkapan yang menarik minat ahli lingkungan dan kehutanan, “Banyak orang yang tahu tentang bulan tetapi tidak tahu luas hutan di Bumi,” Ini adalah komentar Persson pada tahun 1974. Begitu juga ungkapan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Thant, "Hari Bumi adalah momentum penting untuk mengingatkan kita bahwa planet ini sangat kecil dan rapuh."

Hutan tumbuh di permukaan Bumi. Sebuah planet air yang rapuh. Dengan luas darat yang hanya 30%, dan di antara luasan itulah tumbuh hutan-hutan yang terus berkurang. Padahal fungsi hutan adalah menaikkan resapan air hujan, mengisi reservoir air tanah atau akifer untuk cadangan air pada musim kemarau. Juga mengurangi limpasan air, mengurangi risiko banjir bandang. Menjaga kesetimbangan debit air pada musim hujan dan musim kemarau. Hutan juga bisa sebagai pengatur iklim. Tetapi ini rusak karena kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.  

Kebakaran hutan kerapkali terjadi di dua pulau besar tersebut. Satelit NOAA sering memantau ratusan titik panas (hot spot) di pulau tersebut. Yang dikatakan titik itu hakikatnya bukan noktah tetapi bentang api yang luas. Temperatur udara luar mencapai 38⁰C dengan rentang jarak 200 -500 m saja! Visibilitas berkurang dan membahayakan tranportasi darat, laut dan udara. Kecelakaaan dapat saja terjadi sewaktu-waktu. Polusi asap bahkan bisa sampai ke Malaysia dan Singapura. Kebakaran hutan adalah cause célèbre, kejadian besar yang melawan konsep ecodevelopment, merugikan ekonomi dan kesehatan rakyat. Juga mempercepat pemanasan global. 

Survivalitas hutan bergantung pada kontrol dan regulasi. Berbagai kebijakan yang tertuang di dalam perundang-undangan harus dijamah dan ditegakkan (enforcement) untuk mewujudkan penaatan hukum. Diperlukan penaatan hukum yang kreadibilitasnya tinggi dengan peraturan yang jelas dan tegas. Ada konsistensi sanksi, adil dan ada kemauan penguasa dan pengusaha. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan aspek ekonomi dan sosioekologi karena masyarakat selalu terpojok menderita social cost yang besar berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, kenyamanan hidup.

Iklim Global
Pesat sekali pertumbuhan penduduk Bumi. Tahun 1950-an hanya 2,5 miliar orang. Dalam tempo 55 tahun menjadi 6,2 miliar orang. Pada akhir 2007 6,5 miliar orang dan 1,5 miliar berada di bawah garis kemiskinan. Satu miliar di antaranya hidup di negara berkembang. Dekade lalu, dengan populasi hanya 20% dari populasi total, negara maju mengonsumsi 80% kayu hutan. Konsumsi satu bayinya setara dengan 15 bayi di negara miskin. Negara kaya pun membuang limbah terbanyak, mencapai 90%, termasuk limbah B3 dan melepas 90% CFC (chlorofluorocarbon), senyawa pelubang lapisan ozon. Kondisi terkini tentu jauh lebih parah. 

Parahnya lagi, karbondioksida (CO2) terus bertambah akibat penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Pertahun saja, 1% hutan tropis di Bumi ini lenyap sehingga mereduksi fotosintesis yang berdampak pada kenaikan temperatur Bumi. Tibet yang biasanya dingin misalnya, temperatur udaranya pernah mencapai 25 derajat Celcius selama 23 hari. Permukaan air laut pun naik di Kep. Bermuda, Hawaii, Fiji dan pencairan gunung es Gangotri, India dan es di Peg. Andes di Peru. Bukti lainnya, dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an dan tahun terpanasnya ialah tahun 1998, 2001, dan 2005.

Kalau pemanasan itu terus berlanjut, pada tahun 2100 diduga muka air laut naik antara 15 – 95 cm sehingga pulau-pulau kecil tenggelam, pantai menyempit, intrusi makin jauh ke darat. Di Jakarta, intrusi bahkan sudah mencapai Monas. Selanjutnya terjadi reduksi luas pulau sehingga timbul masalah demografi dan gangguan kesehatan seperti malaria, demam berdarah, filariasis, flu burung, SARS (pernapasan akut). Juga memicu gelombang panas yang jauh lebih ganas dan makin luas paparannya, seperti kejadian di kawasan Amerika- Eropa. Badai Noel, topan Katrina, puting beliung terjadi di mana-mana di Indonesia.

Pola hujan dan salju pun berubah, mengubah pola siklus hidrologi, mengganggu suplai air bersih. Intrusi mengasinkan sumur, memperluas krisis air. Karena terjadi ledakan jumlah penduduk, muncullah ancaman krisis pangan sehingga makin luaslah eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, hutan, dan dataran banjir. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan. Di satu daerah terjadi banjir pantai, di daerah lain justru kekeringan. Hadirlah paradoks iklim dan cuaca di seluruh dunia. Keragaman hayati berkurang, spesiesnya punah, gagal panen dan kelaparan meluas. Yang paling menderita tentu saja masyarakat miskin.

Siapa yang bertanggung jawab atas Global Warming? Tentu saja semua negara! Namun, jika dikaitkan dengan CO2, maka yang paling bertanggung jawab ialah negara industri karena merekalah yang terbanyak mengemisi CO2. Sekadar contoh, emisi orang Amerika Serikat (AS) lima kali lebih besar daripada orang Meksiko, bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Walaupun hanya 20% orang tinggal di negara maju tetapi kontribusinya 63% dari total emisi. Memang betul, kalau dihitung berdasarkan negara, maka Cinalah emitor terbesar lantaran jumlah penduduknya terbanyak. Namun secara individu emisi tujuh orang Cina setara dengan satu orang AS.

Selain Global Warming, efek yang juga riskan ialah hujan asam (hujas) atau acid rain, acid deposition. Menurut Gorham, dengan kadar 0,03% CO2 dari seluruh gas atmosfer maka derajat keasaman air hujan sekitar 5,7. pH-nya turun karena ada tambahan asam dari asam nitrat dan asam sulfat dengan sumber SO2 dan NOx. Sebetulnya, potensi Global Warming oleh CO2 tidaklah besar. Metana 21 kali lebih besar daripada CO2. CFC malah 7.300 kali lebih besar daripada CO2. Hanya saja, karena kadar CO2 sangat banyak maka gas inilah yang paling besar kontribusinya pada Global Warming, yaitu 50%. Sumber gas rumah kaca itu ialah BBM (57%), CFC 17%, pertanian 14%, dan penebangan hutan 9%.  

Opsi Solusi
Ada sejumlah upaya tindak yang dapat dilakukan. Yang pertama, mengurangi emisi CO2, mengurangi penebangan hutan (legal dan illegal). Menghentikan produksi CFC lalu menggantinya dengan zat kimia ramah lingkungan. Mereduksi emisi metana dari sawah dengan mengurangi rendaman jerami, kurangi pembakaran biomassa, hindari pembakaran sampah (insinerasi, PLTSa: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dengan cara pembakaran sampah, bisa dimodifikasi dengan gasifikasi yang relatif lebih bersahabat dengan lingkungan, tetapi tetap dengan kalkulasi yang tepat dan taat asas dalam operasinya), termasuk kurangi pemakaian pupuk kaya nitrogen.

Sebaliknya, giatkan proses fotosintesis, tarutama padi. Absorbsi CO2 oleh padi akan meningkatkan produksi beras sekaligus mereduksi Global Warming. Ada riset di Jepang yang menyatakan pemberian CO2 sebanyak 700 ppmv (sekitar 200% kadar CO2 di udara) dapat menaikkan produksi 20 – 30%. Ini dicoba oleh periset di Shizukuishi, Iwate Prefecture Jepang dan dinamai The Rice Face. FACE (Free-Air CO2 Enrichment) adalah pembubuhan CO2 ke sawah tanpa mengubah ekosistemnya. Yang dapat ditempuh juga ialah perluasan penggunaan sumber energi angin (bayu, PLTB) seperti di Nusa Penida, energi surya (PLTS), dan energi air (PLTA) dan mikrohidro, serta energi hayati (nabati, bioenergy). Intinya adalah energi baru yang terbarukan (renewable energy). Inilah potensi sumber energi masa depan dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi.

Mitigasi Bencana
Tsunami sunyi akibat runtuhan lereng Gunung Anak Krakatau yang menerjang pantai barat Banten adalah bencana yang patut disesalkan. Bukan lantaran kejadiannya tetapi karena pemerintah (BMKG) seolah-olah kehilangan jati diri. Gamang dalam bertindak, plin-plan orang bilang. Begitu pula di Palu, di Lombok, dan beberapa bencana banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Bantuan pemerintah belum optimal dan banyak warga kecewa. Adapun tsunami yang diakibatkan oleh gempa sudah bisa diduga dan diprediksi, bahkan bisa diketahui perkiraan waktu tempuh gelombang smong tersebut ketika menghempas pantai. Gunung meletus juga bisa diduga dengan alat seismograf dan alat lainnya. Begitu juga banjir bandang dan kemungkinan angin topan yang menghantam suatu daerah.

Perihal gempa, walaupun sulit dideteksi, ada sejumlah indikasi yang dianggap mengawali gempa. Misalnya, emisi gas radon dari sumur-sumur, kenaikan abnormal muka tanah, hewan air dan darat berperilaku aneh dan panik. Tingkah hewan ini menyiratkan gempa akan terjadi beberapa saat lagi. Khusus untuk anomali kenaikan muka tanah, mari dilihat kasus di Niigata, Jepang. Proses gempa sudah dimulai sepuluh tahun sebelum hari H. Muka tanah di daerah pantai Nezugasaki di Timur Laut Niigata naik setinggi 12 cm lalu turun lagi menjadi 8 cm sebelum terjadi gempa. Begitu pun di sepanjang pantai Selatan dari Nezugasaki menuju Niigata. Sedangkan di Selatan Niigata, muka tanahnya justru turun antara 4 sampai 12 cm. Akhirnya, pada 1964 terjadilah gempa yang episenternya di Laut Jepang, di dekat Pulau Awashima sekuat 7,5 skala Richter.

Untuk upaya peringatan dini, pengembangan ilmu dan teknologi dengan meningkatkan riset kompetitif di bidang mitigasi kebencanaan menjadi opsi utama. Pemerintah harus memberikan prioritas pada temuan baru, baik novelty maupun invention, dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada dosen dan peneliti yang terus berkutat dengan tema penelitian kebencanaan. Tepat apabila pemerintah baru nanti, seperti spirit yang disampaikan oleh Pak Prabowo Subianto bahwa beliau akan membentuk dan memapankan Kementerian Mitigasi dan Kebencanaan atau apapun nanti nomenklaturnya, akan fokus pada penyiapan masyarakat dan pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana dan upaya tindak cepat dalam penanggulangannya.

Semoga sukses Bapak Prabowo dan Bang Sandiaga sebagai presiden dan wakil presiden harapan rakyat Indonesia demi perubahan ke arah yang lebih baik, menuju Indonesia adil dan makmur. ***

ReadMore »

15 Januari 2019

Indonesia MENANG

Indonesia Menang
Oleh Gede H. Cahyana

Ada lima hal yang ditulis di sini berkaitan dengan pidato capres Prabowo Subianto. Lima hal tersebut adalah:
1. Swasembada pangan.
2. Swasembada energi.
3. Swasembada air bersih
4. Lembaga pemerintahan yang kuat
5. Angkatan perang atau tentara yang kuat.


Sesuai dengan bidang ilmu dan teknologi yang dipelajari, saya fokus pada pangan, energi, dan air bersih. Tiga hal ini disingkat dengan FEW: Food, Energy , Water. Dalam bahasa Inggris few artinya sedikit. Tiga hal tersebut faktanya berjumlah sedikit dan makin susut. Dalam bahasa Indonesia bisa disingkat MEA: Makanan, Energi, Air.  Inilah tema penting dalam abad ke-21 ini, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh negara di dunia. Bahkan tahun 2014 PBB pernah merilis tema Water and Energy sebagai tema peringatan Hari Air Dunia. Air dan energi, khususnya energi dari sumber daya air, yaitu PLTA kini lebih cenderung dalam skala kecil yang disebut mikrohidro.

Energi di air laut juga berkembang dan menjadi opsi penting dalam penyediaan energi  masa depan. Tim riset Gordon McKerron dari Sussex University, seperti ditulis New Scientist, May 1998 menyatakan bahwa perbandingan harga (the price of power) energi gelombang terhadap energi gas, angin, batubara dan nuklir adalah  2,6 : 2,5 : 3,0 : 4,0 : 4,5 pence/kWh. Jadi, energi gelombang adalah potensi energi masa depan sebagai energi terbarui (renewable energy ) yang takkan pernah habis dan relatif murah.

Bisa disebut bahwa air dan energi seperti dua sejoli yang saling pengaruh-mempengaruhi. Tambahan lagi poin ketiga, yaitu pangan. Tiada pangan jika tiada air. Bahkan untuk kehadiran air, pangan harus membutuhkan energi, seperti energi pompa yang digunakan untuk menaikkan dan mengalirkan air sungai ke saluran irigasi atau sawah, atau air tanah yang dipompa untuk pengairan sawah.

Penguatan tiga poin di atas, yaitu FEW, dengan berbagai kebijakan pemerintah dan penyediaan anggaran serta pelibatan teknologi yang tepat akan bisa mengubah makna few (sedikit) menjadi cukup. Cukup bagi kebutuhan setiap orang WNI dan bisa mendukung kegiatan sehari-hari seperti belajar, bersekolah, bermain, berwisata, beribadah, berbisnis, dan berbagai aktivitas yang membutuhkan makanan, energi, dan air.

Terima kasih Pak Prabowo, semoga Allah Swt memberikan ridha-Nya kepada Bapak dan Pak Sandiaga Uno untuk memimpin negara luas dan besar penduduknya ini, dengan beragam agama, suku, ras, golongan agar menjadi masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Aamiin.***

ReadMore »