• L3
  • Email :
  • Search :

5 April 2006

Cover PDAM



Inilah Isi dan Resensinya.

Kata Pengantar
Sekapur Sirih
Daftar Isi
Bab 1 Surat Protes Buat PDAM 16
Bab 2 Utang Rp 4,3 Triliun 30
Bab 3 Bangkrut atau Bangkit? 47
Bab 4 Trilogi Air 60
Bab 5 Reparasi Pilar PDAM 80
Bab 6 Pegawai Yang Cakap 88
Bab 7 Desain Yang Inovatif 103
Bab 8 Area Servis Perluas Terus 120
Bab 9 Manajemen Bermoral 137
Bab 10 Tarif vs Mau-Bayar 159
Bab 11 PDAM atau PAM Swasta? 187
Bab 12 Amik Versus Amiku 209
Bab 13 Basmi Wabah Pemula 229
Bab 14 'Wabah' Petamula 250
Bab 15 'Beternak' Bakteri 264

Daftar Pustaka 275
Sekilas Penulis 277
Amazon Pond Institute 278


Resensi.

Hati-hati! Inilah kata yang pas untuk tidak berkata AWAS!

Saat ini air olahan PDAM boleh jadi beracun. Air bakunya makin buruk dari tahun ke tahun akibat pencemaran. Bisa dikatakan PDAM mengolah air baku yang sama dengan air limbah sedangkan instalasinya cuma mampu mengolah kekeruhan. Pencemar seperti pestisida, logam berat, deterjen, dll tak mampu ditanganinya. Maka, airnya bisa jadi tak layak diminum, bahaya secara mikrobiologi dan kimia.

Sekarang ada 402 kabupaten/kota di Indonesia. Berarti ada sekian juga PDAM kita. Tapi sayang, 90% PDAM yang tergabung dalam Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) ini sakit parah. Utangnya 4,3 triliun rupiah. Di Bandung, ini sekadar contoh, baru 53% yang terlayani. Di Jakarta, sejak 1991 sudah melibatkan korporasi asing Thames dari Inggris dan Lyonnaise dari Prancis, baru terlayani 49%. Itu pun tak bagus layanannya. Malah ada pelanggannya yang tak pernah dapat air sejak meter-airnya dipasang sampai sekarang. Juga ada yang digilir pada malam atau dini hari saja.

Adakah dampaknya? Banyak! Di antaranya: wabah penyakit menular lewat air (pemula) seperti tifus, disentri, diare dan muntaber. 'Wabah' penyakit tak menular lewat air (petamula) akibat racun juga bisa terjadi. Asal racun ini dari pencemar dan zat kimia yang justru dipakai dalam pengolahan air. Itu sebabnya, PDAM harus ditata ulang. Direparasi, direformasi. Usulan buku ini ialah pola tata-piramid, yaitu dasar piramid berupa pilar P (Pegawai), D (Desain), A (Area servis), dan M (Manajemen). Masing-masing didetail dalam bab khusus. Lalu lantai piramid dibagi menjadi empat sektor yang terdiri atas: PAM swasta, amik (air minum kemasan), amiku (air minum kemasan ulang atau isi ulang), dan mitra antara PDAM dan swasta.

Adapun empat sisinya mewakili Trilogi AIR, yaitu A = Aman, I = Isi, R = Rutin. Sisi satunya lagi ialah T = Tarif dan puncaknya K = konsumen (pelanggan). Sedangkan lingkungan piramid ialah pemerintah (pusat dan daerah) serta DPR dan DPRD yang tergabung dalam stakeholder PDAM.

Poin-poin itulah fokus dari buku yang dikatapengantari oleh Ketua Dewan Pakar DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita, seorang dosen Teknik Kimia ITB.

Buku yang terdiri atas 15 bab ini pun mengupas perseteruan antara pabrik air minum kemasan (amik) dan depot air minum isi ulang atau kemasan ulang (amiku). Amiku protes kepada Depperindag karena menunda-nunda regulasi teknisnya. Di lain pihak, amik gencar menyerang depot amiku lewat riset para periset di perguruan tinggi. Maka, “tirthayudha”, perang air boleh dikatakan meletus sudah.

'Perang/ itu pun muncul di masyarakat. PDAM kerapkali bersitegang dengan warga di sekitar sumber air. Juga antara PDAM dengan instansi seperti kehutanan, PLN, irigasi, wisata, dll. Malah pada masa Otonomi Daerah ini, antarkabupaten dan kota pun seru berseteru. Sengit bersaing.

Di dalam buku inilah ada guratan pena: pengada air bersih layak dianugerahi, tidak cuma Nobel, tapi juga bintang.


Terdiri atas 278 halaman, berukuran 12 x 19 cm2, kertas HVS.
Rp 28.000 di semua toko buku (Gramedia, Gunung Agung, Karisma, Kurnia Agung, dll)
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar