• L3
  • Email :
  • Search :

2 April 2006

Sakit Gigi, Cobalah Siwak

Tak seorang pun ingin mulutnya bau, giginya keropos, atau ompong. Ini terkait dengan kebersihan mulut dan gigi. Dari sisi kedokteran gigi (dentistry), setiap selesai makan, gigi harus dibersihkan untuk mengurangi pertumbuhan bakteri di ruang antara gigi dan gusi yang disebut kantong (pocket). Juga untuk mencegah plak (plaque) yang dapat mengeras seperti karang (calculus atau tartar).

Habitat, Komposisi Siwak
Telah lama tanaman siwak digunakan untuk menyikat gigi. Menurut Fathul Qaribi, siwak adalah semua benda (tanaman) yang digunakan untuk menyikat gigi. Jenisnya ada dua khususnya yang berkhasiat untuk obat gigi yakni Salvadora persica dan S. oleoides. Siwak memang tanaman istimewa. Ia dihargai tinggi oleh Nabi Muhammad Saw seperti tersurat pada sejumlah hadisnya. Ujudnya seperti semak belukar namun kaya dengan sebutan. Di Arab dikenal dengan nama Arak atau Ayurak. Di Persia, sebutannya menjadi Darakht-i-Miswak atau Darakht-i-shori sedangkan di tepi Teluk Persia dinamai Chuch. Orang India menyebutnya Pilu atau Jhal dan orang Tamil dengan Ooghai-Puttai. Ahli botani menamainya tooth-brush tree (pohon sikat gigi) sedangkan para penulis Eropa menganggapnya sebagai Mustard Tree of Scripture (tanaman obat di dalam Injil).

Secara geografis, habitatnya terbentang luas, mulai dari Afrika Tengah, Abesinia, Mesir, Tanzania, Senegal, Sudan hingga sepanjang pantai Arab, Persia, India dan Sri Lanka. Sebagai tanaman yang selalu hijau (evergreen), ia mampu tumbuh di setiap tempat mulai dari tanah kering, gurun, daerah pantai dan di tanah-tanah yang sangat asin. Menakjubkan, memang. Jika demikian, di mana letak rahasia kehebatan siwak? Ternyata ada pada komposisi kimianya yang sangat kompleks. Senyawa inilah yang kerjanya sinergis sehingga memberikan efek terapi yang baik pada gigi dan sejumlah pengobatan. Beberapa di antaranya yang sudah diketahui adalah trimetilamin (TMA). Zat ini mudah larut dalam air dan berfungsi sebagai zat apung (floatation agent) sehingga mampu mencegah endapan (deposit) partikel dan sisa makanan di rongga mulut khususnya ruang antara gigi. Selain itu, juga potensial sebagai antibakteri.

Yang kedua adalah salvadorine, nama ini diberikan oleh ahli botani William Dymock, sejenis zat alkaloid yang terdapat pada kulit akar yang sudah dikeringkan. Fungsinya belum diketahui dengan pasti. Selanjutnya adalah klorida yang terkait dengan pembasmi bakteri, FLUORIDA untuk mencegah karies (zat ini sering ditambahkan pada pasta gigi komersial saat ini dan sudah saya bahas pada tulisan sebelum tulisan ini, yaitu Fluoridasi-Defluoridasi di milis ini), silika yang dapat memutihkan gigi dan sulfur untuk melenyapkan plak gigi seperti yang pernah dilakukan oleh Hippocrates. Juga berisi vitamin C yang khasiatnya untuk mengobati sariawan dan resin untuk melindungi email gigi.

Morfologi Siwak
Untuk membayangkan bentuknya, deskripsi William Dymock cukup membantu. Katanya, tanaman ini seperti semak, batangnya berliku dengan diameter kurang dari satu kaki, kulitnya retak berpori, keriput keputihan, cabangnya banyak, menyebar dan menjumbai, daunnya saling berhadapan, oval dan membujur, berdaging tak berurat, kedua sisinya berkilau, panjangnya 1,5 inch, bunganya kecil kuning kehijauan, buahnya pun kecil, halus dan kemerahan pada S. persica dan kekuningan pada S. oleoides.

George Walt, Gamble dan Worthington memberikan gambaran lain. Kayu S. persica begitu lembut, putih, mudah diolah, baik untuk pelicin (polisher), tidak disukai oleh rayap (termite), kayu dan akarnya bisa dijadikan sikat gigi. Orang Mesir menggunakannya untuk peti mati (coffin) tapi tidak baik untuk kayu bakar. Salvadora persica, per kubiknya, lebih ringan daripada S. oleoides.

Al-Biruni pun dulu, sudah menguraikan morfologi buahnya yang banyak dimanfaatkan ketika itu. Di dalam Kitab al-Saydanah-nya, seperti ditulis oleh Aftab Saeed di majalah Hamdard Vol 31, No. 1, ia menyebutkan, Arak adalah pohon yang rantingnya digunakan untuk membersihkan gigi. Buahnya yang matang disebut barirah, yang muda disebut mard. Sedangkan Abu Hanifah, seperti dikutip oleh Al-Biruni, mengelompokkan buah itu menjadi tiga macam yaitu kabath yang mirip buah ara (fig fruit), mard yang lembut dan agak basah dan barir yang lebih mirip buah kenari. Ketiganya dapat dimakan oleh manusia dan binatang.

Namun Asmai berpendapat lain. Menurutnya, Mard justru buah yang mentah sedangkan kabath adalah yang matang dan sebutan barir digunakan untuk keduanya. Ibnu Arabi pun lain lagi. Ia membedakan antara barir dan kabath. Barir agak besar, kadang-kadang sebesar genggaman tangan tapi tandannya kecil sedangkan Kabath ukurannya tak lebih besar daripada biji ketumbar. Awalnya, ketika muda, keduanya berwarna hijau kemudian menjadi kemerahan dan manis setelah tua.

Begitulah, banyak ada penafsiran morfologi tanaman siwak (seperti halnya hasil riset fluor) pertanda betapa banyak yang memberi apresiasi dan betapa penting tanaman itu. Ini pun terlihat dari sejumlah khasiat yang sudah diketahui dan mungkin ada juga yang belum diketahui.

Khasiat Siwak
Selain khasiat secara fisik, juga ada secara biologi yakni sebagai pembasmi bakteri. Efek ini dapat terjadi karena ada zat kimia antiseptik (antibakteri) sehingga infeksi dan karies gigi dapat dihindari. Kecuali itu, juga aman, alami, ekonomis dan ekologis karena relatif mudah tumbuh dan tahan segala kondisi alam tropis.

Riset tentang khasiatnya itu pernah dilakukan di Pakistan. Ketika itu dibuat studi banding antara masyarakat kota yang menggunakan pasta gigi komersial dan masyarakat desa yang menggunakan siwak. Hasilnya, penyakit gigi ternyata lebih banyak terjadi pada orang kota yang menggunakan pasta gigi komersial (otomatis dibubuhi fluorida). Pernah juga dilaksanakan studi banding antara S. persica dengan sejumlah tanaman semak lainnya seperti Melia azadirachta, Acacia arabica, Acacia modesta dan Pongamia glabra. Terbukti, S. persica lebih berkasiat membasmi bakteri di dalam rongga mulut, gigi geligi dan di air ludah.

Uji klinis selanjutnya dilaksanakan oleh M. Ragaii El-Mostehy dkk pada pasien di Unit Periodontology di Dental Centre, Kuwait. Hipotesisnya, siwak mengandung zat antiseptik. Ia membagi pasiennya menjadi empat kelompok yang terdiri atas 15 orang. Kelompok pertama disuruh menggunakan ranting siwak untuk membersihkan giginya, kelompok kedua dengan bubuk siwak (pasta), yang ketiga diberi kanji (starch) dan yang keempat diberi pasta gigi komersial biasa. Setelah beberapa minggu, terbukti bahwa hipotesisnya benar yakni ada zat antibakteri di dalam siwak karena persentase plak terbanyak terjadi pada kelompok ketiga, yang diberi 50 gram kanji. Dan dari sisi persentase gingivitis, jumlah penderita kelompok kedua (serbuk/pasta siwak) paling sedikit.

Yang pasti, mulai dari akar, batang (ranting), daun, kulit, buah dan bijinya, semuanya berkhasiat bagi manusia. Masih ada sejumlah sifat farmakologinya yang lain seperti digestif, purgatif atau laksatif, astringent, rematik dll. Bahkan akarnya dijadikan makanan ternak unta, kambing dan kerbau (sapi) agar susunya banyak dan bergizi tinggi. Olahan kulitnya pun dapat digunakan untuk obat demam, tonikum dan stimulan. Juga untuk keperluan lain seperti serbuk pemutih, disinfeksi air kolam dan air minum (terkait dengan kandungan klornya).

Terlihat, betapa luas manfaat siwak. Wajar jika nabi Muhammad mentradisikannya di kalangan muslimin ketika itu. Lalu bagaimana sekarang? Ada baiknya setiap pasta gigi yang diedarkan sudah dibubuhi serbuk siwak, alih-alih fluorida yang ramai diperdebatkan, bukan? Kalau dapat, bulu sikatnya juga dibuat dari siwak, bukan plastik. Tapi maukah kita “kembali” ke zaman bahela? Atau, justru pemakai siwak adalah kaum modern yang berani menembus ruang dan waktu, berkelana ke masa lalu? Entahlah.*

Foto: antarafoto.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar