• L3
  • Email :
  • Search :

2 April 2006

Kue Lapis Sanitary Landfill

Leuwigajah bersejarah. Boleh jadi, gunungan sampah ini masuk Guinnes World Records. Sebab, ini betul-betul peristiwa langka kalau tak bisa dikatakan baru pertama kali terjadi di dunia. Kasus ini pun, diakui atau tidak, kian merendahkan pamor kalangan sanitarian di Indonesia. Apalagi fatal akibatnya. Tak kurang dari 150 orang tewas selagi tidur nyenyak akibat tertimbun sampah. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/03/0801.htm.

Tragedi itu asal muasalnya dari tempat pembuangan akhir yang berupa open dump (timbunan terbuka). Sampah dibuang begitu saja tanpa pengaturan. Istilah kasarnya dibuang seenak perut. Tepatlah dinamai crude dump (timbunan kasar) karena “dilempar” langsung dari dump truck lalu dibiarkan berserakan, bergulir ke mana-mana. Lalat berbiak berjuta-juta ekor, bau busuk dihembus angin sampai jauh. Caranya sungguh mudah; murah pula biayanya. Tapi, mahal nian risikonya. Terlalu mahal, malah.

Adakah cara yang lebih aman? Sejauh ini, sanitary landfill atau sanitary fill (sanfil) adalah jawabnya. Sanfil berfilosofi konservasi. Bertujuan merehabilitasi lahan, bukannya merusak. Jika operasi-rawatnya tepat, sesuai dengan rancangannya, metode ini lebih ramah lingkungan. Relatif aman bagi kesehatan. Hanya saja, perlu disiplin tinggi. Pejabat otoritas sampah dan pekerjanya harus taat pada aturan operasi-rawat. Karena potensi bahaya seperti akumulasi gas dan lindi tetap ada, mereka pun wajib terus memantaunya ketika sanfil sudah tidak digunakan lagi. Kalau tidak, hasilnya takkan lebih baik daripada open dump. Bahkan cenderung lebih rugi secara finansial lantaran mahal biayanya. Buang-buang uang; sia-sia.

Kue Lapis
Sebagai bayangan, open dump mirip dengan lubang atau galian tanah untuk sampah di halaman rumah. Kalau mau, tanpa pikir panjang, sampah dilempar begitu saja. Tak peduli plastik, kaleng, ataupun sisa sayur-mayur, semuanya masuk bertumpuk jadi satu. Lantaran bau busuknya, lalat dan tikus senang merubungnya. Air yang masuk ke lubang melarutkan zat organik dan zat berbahaya-beracun lalu merembes ke tanah. Boleh jadi mengalir ke sumur-sumur di dekatnya, mencemari airnya sehingga tak laik diminum. Berbahaya bagi ginjal dan lever. Demikianlah miniatur general open dump.

Lain halnya dengan sanfil. Analogi yang nyaris sempurna untuk metode ini ialah kue lapis. Sanfil yang sudah penuh, artinya semua lahannya sudah diisi sampah sampai batas ketinggian yang direncanakan, serupa dengan kue lapis dalam satu nampan. Fisik sanfil berlapis-lapis. Lapisan terbawah kue lapis mirip dengan lapisan terbawah atau lapisan pertama sanfil. Begitu pun lapisan kedua, serupa dengan lapisan kedua kue lapis. Demikian seterusnya sampai lapisan teratas (terakhir).

Dalam praktiknya di lapangan, lapisan pertama sanfil tentu tidak selesai dalam satu dua hari. Berbeda dengan pembuatan kue lapis yang bisa selesai hanya dalam hitungan jam. Untuk menyelesaikan satu lajur (satu lapis terdiri atas banyak lajur, mirip kue lapis yang diiris melintang dan membujur) dengan tinggi 2 ? 3 m, dan lebar 3 m, bisa berhari-hari lamanya. Panjang sel sampah ini bergantung pada volume sampah yang ditangani per hari. Setiap hari, setelah sampah dipadatkan di sel-selnya memakai alat berat (kompaktor), bagian atasnya ditutupi tanah liat/lempung yang kedap air. Dengan tebal 15 ? 30 cm, tanah penutup ini mencegah lalat, nyamuk dan tikus mengacak-acak sel sampah. Setiap sel atau lajur dibuat dengan kemiringan (slope) maksimum 45 derajat agar bisa dilewati bulldozer dan shovel. Air hujan yang meresap dan bau busuk pun bisa dikurangi.

Fungsi lain tanah penutup ialah melindungi pekerja dari penyakit akibat bakteri patogen. Mereka wajib mengenakan alat pengaman seperti sarung tangan, sepatu boot dan pakaian khusus yang harus rutin dicuci. Kemudian, yang terpenting, panas hasil dekomposisi zat organik bisa ditahan di dalam sampah dan ikut membasmi larva lalat dan bakteri patogen. Seterusnya, sel per sel, lajur demi lajur, lapis per lapis diselesaikan dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun. Makin luas lahannya, makin lamalah masa-hidup sanfil tersebut.

Pada lapis terakhir, tebal tanah penutup 50 cm agar sedapat mungkin infiltrasi air hujan tak terjadi. Jika terjadi juga, lindi yang terbentuk potensial mencemari air tanah dan air permukaan. Kadar polutannya jauh melebihi air limbah rumah tangga. Secara umum, menurut Flintoff dalam Management of Solid Wastes in Developing Countries, buku yang dipublikasikan atas prakarsa organisasi kesehatan dunia, WHO, kisaran angka BOD-nya 6.000 - 7.000 mg/l, atau 20 ? 30 kali BOD air limbah domestik. Dalam sejumlah kasus ada yang mencapai 30.000 mg/l Selain zat organik, lindi juga kaya nitrogen, klorida, sulfat, dan logam-logam berat.

Aspek Sanfil
Minimal ada empat aspek penting yang mesti dikaji dalam pembuatan sanfil. Pertama, seleksi lokasi. Pascalongsor Leuwigajah, pemkot Bandung bingung mencari TPA. Kecuali penolakan warga dan pemkab Bandung, juga lantaran lahannya sulit didapat atau harganya mahal termasuk yang di Citatah. Atau karena jaraknya jauh, topografi dan kondisi tanahnya tak mendukung, serta alasan lingkungan setempat yang juga tak mendukung.

Kedua, metode sanfil. Ini berkaitan dengan bentuk lahan. Agar efektivitas pemakaian lahannya tinggi, maka rencana operasi harus dibuat. Ada tiga metode yang bisa digunakan, yaitu area, trench, dan depression. Metode area diterapkan apabila lahannya agak landai atau datar dan tidak bisa dibuatkan parit. Setelah sisinya ditanggul dengan tanah, barulah sampah dipadatkan sampai selesai lajur per lajur. Metode trench (parit) dibuat di lahan yang muka air tanahnya cukup dalam dan tersedia tanah penutup. Lebih disukai kalau ada bukit yang tanahnya bisa dipangkas untuk tanah penutup. Parit dibuat dengan menggali sampai tanah kedap air. Selanjutnya, apabila lokasi sanfil berupa cekungan, legok atau jurang, metode depression atau lembah baik dipakai. Sampah diratakan, dipadatkan lalu ditutupi tanah liat. Sekian puluh tahun kemudian, lembah itu berubah menjadi lahan yang bisa dihuni atau untuk fasilitas lainnya seperti taman dan sabuk hijau.

Ketiga, produksi gas dan lindi. Kecuali gas yang dominan, yaitu 60% metana (CH4) dan 35% karbondioksida, ada juga gas lain, yaitu H2S yang berbau busuk seperti di kawah Tangkubanparahu, amoniak (NH3), karbonmonoksida (CO) dll. Gas CO2 bisa melarutkan formasi batu kapur di tanah; metana, gas yang nyalanya seperti spiritus ini, bisa meledak jika terkonsentrasi. Adapun lindi berasal dari internal hasil dekomposisi dan eksternal dari hujan, air tanah, dan limpahan drainase. Inilah masalah ikutan dari penanganan sampah. Sampah selesai, muncullah air sampah yang tak kalah menimbulkan masalah lingkungan.

Keempat, aliran gas dan lindi. Gas bisa dibiarkan lepas ke udara atau ditampung untuk dimanfaatkan energinya. Biogas ini, kalau dieksploitasi dengan hati-hati dan tepat teknologinya, lumayan untuk menerangi kawasan kantor sanfil. Lindi mengalir ke bawah dan terkumpul di dasar sanfil. Bisa dibiarkan di dalam sanfil atau diolah di instalasi pengolahan air limbah sebelum dibuang.

Demikianlah, “kue lapis” sanfil bisa lebih bersahabat ketimbang open dump. Empat aspek di atas, pencarian, pemilahan, pemilihan, penetapan, dan operasi-rawat sanfil bisa meminimalkan risikonya. Namun, dalam tataran desain, masih ada parameter lain yang mesti dievaluasi agar diperoleh hasil yang memuaskan dari sisi teknologi dan investasi.*

1 komentar:

  1. Saya sangat setuju dengan pemikiran Bapak. Sanitary Landfill adalah jawaban yang tepat untuk permasalahan sampah di Indonesia. Menurut pendapat saya, untuk mengurangi beban Landfill sehingga bisa menekan biaya operasionalnya, pengolahan sampah harus dimulai di skala rumah tangga yaitu dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Jika ini dilakukan maka volume sampah yang dibuang ke Landfill(TPA) menjadi sangat berkurang.

    BalasHapus